Timika, Torangbisa.com – Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menekan angka malaria hingga eliminasi pada 2030, dengan fokus pada edukasi masyarakat, perbaikan infrastruktur, serta pembenahan sistem pendataan kasus.
Bupati Mimika Johannes Rettob, saat diwawancarai awak media usai kegiatan di Eme Neme Yauware, Jumat (24/04/2026).
Ia mengungkapkan bahwa upaya penanganan malaria terus dilakukan secara berkelanjutan, baik melalui kerja sama dengan pemerintah provinsi maupun program internal daerah.
“Kita sudah lakukan sejak tahun lalu bersama provinsi. Target kita jelas, tahun 2030 kita bisa menurunkan hingga 35 persen bahkan menuju eliminasi,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari pelatihan kader malaria, penyediaan obat-obatan, hingga pembagian kelambu dan kegiatan penyemprotan untuk menekan penyebaran.
Namun, ia menekankan bahwa kunci utama keberhasilan terletak pada kesadaran masyarakat dalam menjalani pengobatan secara tuntas.
“Yang paling penting itu masyarakat harus minum obat sampai habis. Banyak yang tidak tuntas, padahal itu sangat menentukan dalam penanganan malaria,” tegasnya.
Selain itu, edukasi tentang pola hidup sehat dan pencegahan juga terus digencarkan, termasuk melalui sosialisasi rutin kepada masyarakat di berbagai wilayah.
Di sisi lain, pemerintah juga berfokus pada pembenahan infrastruktur lingkungan, seperti perbaikan saluran air dan pengendalian genangan yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Kita mau pastikan infrastruktur kita baik, tidak ada genangan air, saluran harus lancar. Ini yang kita benahi tahun ini,” jelasnya.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, Rettob mengakui angka kasus malaria di Mimika masih tergolong tinggi, bahkan menyumbang sekitar 30 persen dari total kasus di Indonesia.
“Makanya Mimika ini jadi pusat penelitian malaria. Angka kita masih tinggi,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti persoalan dalam sistem pendataan yang dinilai belum akurat. Menurutnya, satu pasien bisa tercatat lebih dari satu kali jika berobat di fasilitas kesehatan yang berbeda, sehingga memengaruhi angka statistik.
“Bisa saja satu orang tercatat dua kali karena periksa di tempat berbeda. Ini yang sedang kita perbaiki. Kita punya waktu enam bulan untuk memastikan satu kasus benar-benar valid,” katanya.
Rettob optimistis, jika sistem pendataan diperbaiki, capaian penurunan malaria sebenarnya sudah menunjukkan progres yang baik.
“Bisa saja sebenarnya kita sudah turun, tapi karena data belum baik, terlihat masih tinggi. Ini yang sedang kita benahi,” tutupnya.













