Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Tukang Ojek Keluhkan Dampak Kelangkaan BBM, Minta Pemkab Mimika Tertibkan Pengecer

×

Tukang Ojek Keluhkan Dampak Kelangkaan BBM, Minta Pemkab Mimika Tertibkan Pengecer

Sebarkan artikel ini
Tukang Ojek Mimika Keluhkan Kelangkaan BBM, Minta Pemkab Tertibkan Pengecer (Foto: Yani/ Torangbisa.com). 

Timika, Torangbisa.com – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Mimika dinilai semakin membebani masyarakat, khususnya para pengemudi ojek yang menggantungkan penghasilan sehari-hari dari kendaraan bermotor.

Hal tersebut disampaikan oleh Saharuddin, seorang tukang ojek di Mimika, saat menyampaikan pendapatnya terkait dampak kelangkaan dan kenaikan harga BBM di kawasan Pasar Sentral Mimika, Rabu (24/06/2026).

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Menurutnya, meskipun pemerintah belum menaikkan harga resmi Pertalite, kondisi kelangkaan di lapangan telah menyebabkan harga BBM yang dijual oleh pengecer melonjak cukup tinggi.

“Naiknya BBM memang dampaknya luar biasa yang kami rasakan selama ini. Walaupun harga resmi belum naik, tetapi karena Pertalite sulit didapat, harga di pengecer menjadi sangat tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika sebelumnya BBM eceran dijual sekitar Rp20 ribu per botol, kini harganya berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per botol, tergantung situasi dan ketersediaan stok.

Kondisi tersebut membuat para pengemudi ojek harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar untuk mendapatkan bahan bakar. Meski demikian, hingga saat ini para pengemudi ojek di sejumlah pangkalan masih belum menaikkan tarif angkutan.

“Untuk kami pribadi di pangkalan-pangkalan, termasuk di 99 dan POKAM, belum ada kenaikan ongkos. Kami masih kasihan kepada masyarakat,” katanya.

Saharuddin mengaku sering menemui penumpang yang kesulitan membayar ongkos karena kondisi ekonomi yang sulit. Bahkan tidak jarang dirinya tetap mengantar penumpang meskipun uang yang dimiliki tidak mencukupi.

“Terkadang ada mama-mama yang bilang jualannya tidak laku dan hanya punya uang Rp10 ribu. Kasihan, kadang kami antar saja. Apalagi kalau malam hari, siapa lagi yang mau antar mereka,” tuturnya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Mimika dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan distribusi BBM, terutama dengan menertibkan praktik penjualan BBM eceran yang dinilai memberatkan masyarakat.

“Kami harap pemerintah daerah, khususnya Bapak Bupati Jonas Rettob, bisa memperhatikan masalah ini dan menertibkan pengecer-pengecer yang menjual dengan harga terlalu tinggi. Karena kami tidak bisa bekerja kalau tidak ada BBM,” pungkasnya.

img class="alignnone size-full wp-image-34144" src="https://torangbisa.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0247.jpg" alt="" width="1080" height="1350" />