Timika, Torangbisa.com – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika, Sabelina Fitriani mengatakan harga LPG di Mimika mengalami kenaikan akibat bertambahnya biaya distribusi dan terbatasnya pasokan secara nasional.
Hal itu disampaikan Sabelina saat diwawancarai awak media usai apel pagi di Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Senin (11/05/2026).
Menurutnya, kenaikan harga dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari biaya pengiriman kapal, kenaikan tarif kontainer, hingga keterbatasan kuota LPG.
“Memang ada kenaikan karena terkait dengan beberapa biaya termasuk kapal dan kontainer. Selain itu kuota kita sempat berkurang karena kelangkaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan persoalan LPG bukan hanya terjadi di Mimika, tetapi juga menjadi isu nasional karena sebagian pasokan masih bergantung pada impor.
“Ini bukan hanya di Mimika, tetapi secara nasional juga. LPG sebagian masih impor sehingga jumlah yang didapat terbatas,” katanya.
Selain keterbatasan kuota, keterlambatan pengiriman kapal juga menyebabkan kelangkaan LPG di sejumlah titik penjualan. Namun demikian, Disperindag memastikan kondisi stok akan mulai normal kembali setelah pertengahan Mei.
“Nanti tanggal 20 ke atas diharapkan sudah kembali normal, karena kuota kita sudah kembali menjadi 7 metric ton per minggu, sehingga masyarakat bisa mendapatkan LPG kembali di kios atau toko-toko,” jelasnya.
Terkait harga, Sabelina menyebut terjadi kenaikan sekitar Rp40 ribu per tabung, atau berkisar 10 hingga 12 persen dibanding sebelumnya.
“Dari sekitar Rp350 ribu menjadi Rp390 ribu, jadi kenaikannya kurang lebih 10 sampai 12 persen,” ungkapnya.
Meski demikian, ia memastikan stok LPG mulai terlihat kembali di sejumlah toko dan pangkalan. Beberapa kapal pengangkut dari agen juga dijadwalkan tiba dalam waktu dekat.
“Beberapa hari ini sudah mulai terlihat ada di toko-toko. Nanti setelah tanggal 20 beberapa kapal dari agen juga sudah masuk,” katanya.
Sabelina juga mengimbau masyarakat untuk lebih hemat dalam penggunaan energi di tengah situasi global yang mempengaruhi ketersediaan pasokan energi.
“Kita ingin masyarakat tetap hemat menggunakan energi, karena situasi internasional memang mempengaruhi ketersediaan energi,” tutupnya.















