Ekonomi

SPPG Oyehe Nabire 002 Tuai Pujian, Aliansi Pengusaha Papua Timika: MBG Harus Berdampak sampai ke Mama-Mama Papua

×

SPPG Oyehe Nabire 002 Tuai Pujian, Aliansi Pengusaha Papua Timika: MBG Harus Berdampak sampai ke Mama-Mama Papua

Sebarkan artikel ini
SPPG Oheye saat memberdayakan ekonomi lokal dengan membeli bahan makanan dari mana-mana Papua dan Nelayan (Foto: Istimewa)

Timika, Torangbisa.com – Di tengah besarnya harapan terhadap keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), SPPG Oyehe Nabire 002 justru tampil menonjol dan menuai apresiasi. Bukan hanya karena pelayanan yang dinilai baik, tetapi juga karena keberpihakannya yang nyata kepada masyarakat kecil, khususnya mama-mama Papua dan nelayan lokal.

Hasil pantauan dan analisa Aliansi Pengusaha Papua di Timika menunjukkan, dapur SPPG Oyehe Nabire 002 tidak bekerja sekadar menggugurkan tugas.

Dapur ini dinilai menjalankan program dengan tata kelola yang rapi, disiplin, menggunakan bahan baku segar, serta memberi dampak ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar.

Ketua Aliansi Pengusaha Papua di Timika, Emus Kogoya, menegaskan bahwa pola kerja yang ditunjukkan SPPG Oyehe Nabire 002 layak dijadikan contoh bagi dapur-dapur SPPG lain, khususnya di wilayah Papua Tengah.

“Setelah kami melakukan pantauan dan analisa secara langsung, kami melihat langkah-langkah pelayanan dari SPPG Oyehe Nabire 002 ini sangat baik. Ini yang kami bilang, program seperti ini jangan hanya berjalan, tetapi harus benar-benar dirasakan manfaatnya. Dan di sini kami melihat manfaat itu nyata,” tegas Emus Kogoya.

Menurutnya, salah satu kekuatan utama SPPG Oyehe Nabire 002 adalah keberanian untuk melibatkan pelaku ekonomi kecil dalam rantai pasok bahan baku. Mama-mama Papua di pasar tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut merasakan dampak program melalui penjualan bahan kebutuhan dapur.

“Yang paling penting bagi kami adalah dapur ini membeli langsung bahan baku dari mama-mama Papua yang berjualan di pasar. Ini langkah yang sangat positif, karena ekonomi masyarakat kecil ikut bergerak. Program MBG jangan sampai hanya bicara makanan, tetapi juga harus menghadirkan keadilan ekonomi bagi rakyat kecil. Itu yang kami lihat berjalan di sini,” ujarnya.

Emus menilai, model seperti ini sejalan dengan semangat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang menginginkan agar setiap program strategis pemerintah memberi manfaat nyata dan langsung dirasakan masyarakat lapisan bawah.

“Kalau masyarakat kecil ikut tumbuh, pedagang kecil ikut hidup, nelayan kecil ikut mendapat manfaat, maka di situlah letak keberhasilan program pemerintah. Jadi kami sangat mengapresiasi cara kerja seperti ini,” katanya.

Tak hanya memberdayakan pedagang pasar, SPPG Oyehe Nabire 002 juga dinilai serius menjaga kualitas bahan pangan. Untuk kebutuhan ikan, pembelian dilakukan langsung dari nelayan kecil, termasuk mama-mama Papua yang baru pulang menjaring. Sayur-sayuran, buah-buahan, hingga bumbu dapur yang digunakan juga dipastikan dalam kondisi segar.

Sekretaris Aliansi Pengusaha Papua di Timika, Aji Lemauk, menyebut konsistensi penggunaan bahan baku segar sebagai indikator penting bahwa dapur tersebut bekerja dengan standar yang baik.

“Kami melihat mereka sangat serius dalam memilih bahan baku. Ikan yang dibeli itu segar, langsung dari nelayan kecil. Sayur, buah, dan bumbu juga dalam kondisi segar. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak asal memasak, tetapi benar-benar memperhatikan kualitas makanan yang akan dikonsumsi,” kata Aji Lemauk.

Menurut Aji, mutu bahan pangan tidak boleh dianggap sepele, sebab kualitas makanan sangat menentukan keberhasilan tujuan besar program MBG dalam membangun generasi sehat, kuat, dan cerdas.

“Kalau mau menciptakan generasi hebat dan masa depan cerah, maka makanan yang disiapkan juga harus benar-benar berkualitas. Kami melihat SPPG Oyehe Nabire 002 punya kesadaran itu,” ujarnya.

Selain kualitas bahan baku, Aliansi Pengusaha Papua di Timika juga menyoroti disiplin kerja di lingkungan dapur tersebut. Mereka menilai seluruh proses kerja berjalan tertib, mengikuti standar operasional prosedur atau SOP, dan dikerjakan dengan rasa tanggung jawab yang tinggi.

Aji menegaskan, disiplin kerja menjadi hal mendasar yang harus dimiliki seluruh dapur pelaksana MBG.

“Program ini besar, menyangkut kebutuhan masyarakat dan masa depan anak-anak. Karena itu tidak boleh dikerjakan sembarangan. Harus ada SOP yang jelas, disiplin yang kuat, dan pengawasan yang baik. Kami melihat hal itu dijalankan di SPPG Oyehe Nabire 002,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Aliansi Pengusaha Papua di Timika, Faya Naa, memberikan perhatian khusus terhadap penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di dapur SPPG tersebut.

Menurutnya, hal ini menjadi poin penting yang sering kali luput diperhatikan, padahal sangat menentukan keamanan dan kualitas pelayanan.

“Kami melihat penerapan safety atau K3 di dapur ini cukup ketat. Ini sangat penting, karena dapur yang baik bukan hanya soal hasil akhir makanan, tetapi juga soal bagaimana prosesnya dijalankan secara aman, tertib, bersih, dan bertanggung jawab,” ungkap Faya Naa.

Ia menambahkan, penerapan K3 yang baik akan meminimalkan risiko kerja dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama proses produksi makanan.

“Bagi kami, ini nilai tambah yang besar. Karena dengan penerapan K3 yang baik, maka lingkungan kerja lebih aman, kebersihan lebih terjaga, dan kualitas pelayanan juga ikut meningkat. Hal seperti ini sangat patut ditiru oleh dapur-dapur SPPG lainnya,” katanya.

Faya juga menekankan bahwa keberhasilan program MBG harus dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari aspek distribusi makanan, melainkan juga dari dampak sosial, ekonomi, dan budaya kerja yang dibangun.

“Kalau program ini dijalankan dengan pola seperti ini, membeli dari masyarakat lokal, menjaga kualitas bahan, disiplin pada SOP, dan menerapkan K3 secara ketat, maka manfaatnya akan jauh lebih besar. Program ini bisa menjadi penggerak ekonomi rakyat sekaligus penopang lahirnya generasi Papua yang sehat dan cerdas,” ujarnya.

Secara umum, Aliansi Pengusaha Papua di Timika menilai SPPG Oyehe Nabire 002 telah menunjukkan bahwa program MBG bisa dijalankan secara profesional sekaligus berpihak kepada masyarakat.

Dapur ini tidak hanya menghadirkan makanan bergizi, tetapi juga membangun rantai manfaat yang menyentuh pedagang kecil, nelayan lokal, dan masyarakat asli Papua.

Model kerja seperti ini dinilai penting untuk direplikasi secara luas di Papua Tengah, agar manfaat MBG benar-benar menyebar dan tidak berhenti hanya di satu titik layanan.

Emus Kogoya menegaskan, praktik baik yang sudah berjalan di SPPG Oyehe Nabire 002 semestinya menjadi rujukan bagi dapur-dapur lain.

“Kami berharap ini jangan berhenti di sini. Apa yang baik harus dijadikan contoh. SPPG Oyehe Nabire 002 sudah memperlihatkan bahwa program MBG bisa dijalankan dengan baik, tertib, aman, dan berpihak kepada rakyat kecil. Ini model yang harus didorong bersama,” tandasnya.