Timika, Torangbisa.com – Insiden penembakan yang terjadi di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada 17 Agustus 2026 lalu, masih meninggalkan dampak psikologis bagi tenaga kesehatan yang sebelumnya bertugas di Jila.
Hingga Sabtu (29/8/2026), tenaga kesehatan Puskesmas Jila belum kembali menjalankan pelayanan seperti biasa. Mereka masih menjalani proses pemulihan setelah ditarik dari lokasi pascainsiden tersebut.
Kepala Puskesmas Jila, Muhammad Imron Irjayana, S.Kep., Ns., mengatakan, kondisi psikologis para tenaga kesehatan menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum mereka kembali ditugaskan ke Jila.
“Teman-teman masih dalam proses pemulihan traumanya. Kami juga bersama PPNI memberikan waktu untuk proses pemulihan itu,” ujar Imron saat dihubungi, Jumat sore.
Menurut dia, pengalaman yang dialami para petugas bukan perkara ringan. Keselamatan tenaga kesehatan menjadi hal yang tidak dapat diabaikan dalam menentukan penugasan selanjutnya.
“Ini bukan masalah yang ringan, tetapi menyangkut nyawa teman-teman semua,” katanya.
Imron menjelaskan, tenaga kesehatan Puskesmas Jila ditarik setelah terjadi insiden keamanan pada 17 Agustus. Sejak saat itu, pihaknya belum memperoleh kepastian mengenai waktu penugasan kembali.
Puskesmas Jila masih menunggu keputusan dan arahan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika serta Pemerintah Kabupaten Mimika.
Kembalinya tenaga kesehatan ke Jila, kata Imron, sangat bergantung pada perkembangan situasi keamanan dan hasil koordinasi pemerintah daerah dengan aparat keamanan.
“Kalau sudah dinyatakan kondusif, pasti sesegera mungkin kami akan berangkat untuk melakukan penugasan. Semuanya itu membutuhkan proses,” ujarnya.
Selain kondisi keamanan, kesiapan mental masing-masing tenaga kesehatan juga akan dievaluasi.
Imron mengatakan, tidak tertutup kemungkinan terdapat petugas yang belum siap kembali ke Jila dalam waktu dekat.
Pihak terkait, kata dia, tengah mempertimbangkan langkah bagi tenaga kesehatan yang masih membutuhkan waktu lebih panjang untuk pulih, termasuk kemungkinan penempatan sementara di fasilitas kesehatan yang berada di wilayah perkotaan.
“Nanti akan dilihat bagaimana teman-teman yang tidak sanggup. Apakah mereka ditempatkan di puskesmas di kota atau dititipkan dulu untuk memulihkan masa traumatis mereka,” kata Imron.
Ia menegaskan, pemulihan kondisi psikologis para tenaga kesehatan menjadi bagian penting sebelum keputusan penugasan kembali diambil.
Di tengah belum kembalinya tenaga kesehatan Puskesmas Jila, pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat tetap diupayakan.
Imron mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan petugas medis Satgas TNI yang berada di Jila.
Sejumlah kebutuhan obat-obatan untuk pelayanan dasar juga telah diserahkan sehingga masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan tetap dapat memperoleh pertolongan.
“Kami bekerja sama. Untuk pengobatan dasar, obat-obatan yang dibutuhkan di sana sudah diserahkan supaya kalau ada pasien yang sakit bisa tertangani,” ujarnya.
Untuk saat ini, Puskesmas Jila memilih menunggu kepastian keamanan sebelum mengirim kembali para tenaga kesehatannya.
Di sisi lain, pemulihan mental para petugas yang mengalami langsung situasi keamanan tersebut menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting.
Bagi mereka, kembali ke tempat tugas bukan hanya persoalan kapan situasi dinyatakan aman, tetapi juga kapan rasa aman itu benar-benar kembali dirasakan.
















