Timika, Torangbisa.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mimika mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi curah hujan tinggi yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan di wilayah Kabupaten Mimika.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mimika, Daffa Alfian, menjelaskan bahwa saat ini wilayah Mimika telah memasuki periode angin timur yang membawa massa udara basah. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu peningkatan intensitas hujan di berbagai wilayah.
“Untuk beberapa hari ke depan, Mimika dipengaruhi angin timur yang cenderung membawa udara basah. Secara klimatologis, ketika memasuki bulan Juni, Juli, dan Agustus, curah hujan di Mimika memang cenderung tinggi,” ujarnya.
Menurut Daffa, bulan Mei menjadi masa transisi menuju musim hujan yang lebih intens. Berdasarkan data klimatologi, puncak curah hujan pada tahun sebelumnya terjadi pada Agustus.
Meski BMKG belum menetapkan prediksi pasti untuk puncak musim hujan tahun ini, pola yang terjadi diperkirakan tidak akan jauh berbeda.
“Kalau melihat pola tahun-tahun sebelumnya, kemungkinan peningkatan curah hujan akan terjadi pada Juni, Juli, hingga Agustus. Saat ini kami masih terus memantau perkembangan atmosfer untuk menentukan prediksi yang lebih akurat,” katanya.
BMKG mencatat, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi pada sore, malam, hingga dini hari dan diperkirakan merata di hampir seluruh distrik di Kabupaten Mimika. Sementara itu, wilayah pegunungan diprediksi akan mengalami hujan hampir setiap hari.
Tidak hanya itu, Mimika juga dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat curah hujan tertinggi di Indonesia. Dalam periode Juni hingga Agustus, akumulasi curah hujan bulanan bahkan dapat mencapai lebih dari 900 hingga 1.000 milimeter.
“Angka tersebut sudah termasuk kategori curah hujan yang sangat tinggi, bahkan ekstrem jika dibandingkan dengan banyak daerah lain di Indonesia,” jelas Daffa.
Kondisi cuaca tersebut juga berdampak pada sektor transportasi udara. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah penerbangan menuju dan dari Timika mengalami keterlambatan bahkan perpanjangan waktu tunggu akibat rendahnya jarak pandang saat hujan deras terjadi.
“Ketika curah hujan tinggi, jarak pandang bisa turun hingga sekitar 500 sampai 2.000 meter. Kondisi ini membuat pilot harus lebih berhati-hati dan terkadang tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan,” ungkapnya.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan, pengguna transportasi laut maupun udara, serta warga yang berada di wilayah rawan banjir dan longsor, untuk terus memantau informasi cuaca resmi dan meningkatkan kewaspadaan selama periode curah hujan tinggi berlangsung.



















