Timika, Torangbisa.com – Kondisi kawasan wisata Mangrove Poumako di Kabupaten Mimika dinilai semakin memprihatinkan akibat minimnya perawatan, kerusakan fasilitas, hingga maraknya pencurian material di area wisata.
Hal itu diungkapkan Plt. Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mimika, Elisabeth Cenawatin, saat memaparkan realisasi program dan target pendapatan daerah di Kantor Bapenda Mimika, Senin (18/05/2026).
Dalam pemaparannya, Elisabeth menyebut wisata Mangrove Pomako saat ini menjadi satu-satunya potensi wisata utama yang dikelola langsung oleh dinasnya, meski Kabupaten Mimika sebenarnya memiliki banyak potensi wisata lain.
“Potensi wisata kita sebenarnya banyak, tetapi saat ini yang baru kami kelola baru kawasan mangrove di Pomako,” ujarnya.
Namun di balik potensi tersebut, pihaknya menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari keterbatasan tenaga pengelola, kerusakan fasilitas, hingga aksi pencurian material di kawasan wisata.
Menurut Elisabeth, papan-papan jalur tracking, seng, hingga fasilitas gazebo yang dibangun pemerintah banyak yang rusak dan hilang dicuri.
“Kemarin dua gazebo bantuan pemerintah provinsi juga habis diambil masyarakat. Sekarang tinggal rangkanya saja,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kondisi cuaca yang lembab dan tingginya curah hujan membuat papan kayu di kawasan mangrove cepat rusak dan lapuk. Karena itu, pihaknya mengusulkan penggunaan material semen seperti yang diterapkan di kawasan wisata Asmat.
“Kalau bisa jalur tracking diganti dengan semen supaya lebih tahan lama. Kalau tetap kayu, cepat rusak,” katanya.
Selain itu, Dinas Kebudayaan Pariwisata juga mengusulkan pembangunan pagar keliling untuk mencegah pencurian fasilitas wisata yang terus terjadi.
“Kalau tidak dipagar, papan-papan dan fasilitas di bawah pasti diambil lagi,” tambah Elisabeth.
Tak hanya persoalan fasilitas, pihaknya juga mengakui sistem pengelolaan retribusi wisata masih dilakukan secara manual menggunakan karcis, sehingga dinilai belum maksimal dalam mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hingga April 2026, realisasi pendapatan dari sektor wisata mangrove baru mencapai sekitar Rp18 juta, sementara target setahun sebesar Rp100 juta.
“Target kami memang kecil karena kawasan ini masih membutuhkan banyak perhatian dan perbaikan,” jelasnya.
Elisabeth juga mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung mulai menurun karena kawasan wisata dinilai tidak mengalami perubahan signifikan selama beberapa tahun terakhir.
“Pengunjung berkurang karena masyarakat melihat tempat wisata ini begitu-begitu saja, tidak ada perubahan,” ujarnya.
Sebagai solusi, pihaknya berencana melakukan revitalisasi kawasan wisata secara bertahap, termasuk membangun rumah jaga untuk petugas keamanan yang akan berjaga selama 24 jam.
Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat sekitar juga akan ditingkatkan agar kesadaran menjaga fasilitas wisata bisa tumbuh bersama.
“Kami juga akan melakukan pendekatan kepada masyarakat sekitar kawasan wisata supaya ikut menjaga fasilitas yang ada,” katanya.
Melalui dukungan pemerintah daerah, Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berharap kawasan wisata Mangrove Pomako dapat kembali menjadi destinasi unggulan yang mampu menarik wisatawan sekaligus meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Mimika.


















