Timika, Torangbisa.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mencatat sebanyak 44.476 orang telah menjalani skrining Tuberkulosis (TBC) sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.121 orang tercatat sebagai terduga TBC, atau sekitar 27,3 persen dari seluruh warga yang menjalani skrining.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Mimika, Kamaluddin, saat dikonfirmasi Wartawan Torangbisa.com via whatsapp, Kamis (17/9/2026).
Berdasarkan ringkasan capaian program TBC 2026, Dinkes Mimika juga mencatat 1.650 TBC sensitif obat, 24 TBC resisten obat, 303 TBC anak usia 0-14 tahun, 176 TBC-HIV, serta 61 TBC-DM atau TBC yang berkaitan dengan diabetes melitus.
Kamaluddin mengatakan, aktivitas skrining mengalami peningkatan cukup tajam pada periode Juni hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan penemuan kasus TBC di Mimika.
Selain meningkatkan skrining, Dinkes Mimika juga menempatkan penguatan tindak lanjut terhadap terduga TBC, pencatatan, serta kesinambungan layanan sebagai fokus penting dalam pelaksanaan program.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, mengatakan penanganan TBC membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak dapat hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan.
Menurutnya, pemerintah daerah mulai memperkuat kerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD), lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan (Ormas), serta organisasi profesi.
“Sekarang kita tidak lagi bertumpu pada Dinas Kesehatan dalam rangka penanganan kasus TB di Kabupaten Mimika. Kita mulai merangkul, bekerja sama dengan OPD-OPD, lintas OPD, lintas LSM, lintas Ormas, dan organisasi-organisasi profesi,” ujar Godfried.
Ia menjelaskan, kolaborasi tersebut bertujuan agar upaya penemuan dan penanganan kasus TBC dapat dilakukan secara lebih terarah dan menyeluruh.
“Kalau kita Dinas Kesehatan sendiri itu bisa, tetapi kita berharap ada keterlibatan pihak-pihak lain yang dapat membantu Dinas Kesehatan untuk penanganan kasus TB,” katanya.
Godfried juga mengakui perkembangan kasus TBC di Kabupaten Mimika menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
“Terkait dengan perkembangan kini di Kabupaten Mimika, yang jelas itu dari tahun ke tahun bertambah,” ujarnya.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Dinkes Mimika terus berupaya meningkatkan penemuan kasus sehingga pasien yang teridentifikasi dapat segera mendapatkan penanganan.
“Justru kita sekarang lagi berusaha bagaimana mencari dan menemukan sebanyak mungkin sehingga bisa kita antisipasi dalam hal penanganan pasien-pasien TB,” jelasnya.
Godfried menambahkan, pengendalian TBC membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, organisasi profesi, serta pihak lainnya.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat penemuan kasus sekaligus memastikan masyarakat yang terduga TBC mendapatkan pemeriksaan dan penanganan secara berkelanjutan.

















