Timika, Torangbisa.com – PT Freeport Indonesia menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia yang dilaksanakan di sejumlah lokasi berbeda, salah satunya di Alun-alun Kuala Kencana, Distrik Kuala Kencana dengan suasana khidmat dan penuh semangat nasionalisme.
Upacara pengibaran Sang Merah Putih menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan yang dilaksanakan di Kuala Kencana yang diikuti sebanyak 440 peserta dari berbagai divisi PTFI, juga perwakilan TNI Polri.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Direktur Sustainable Development PT Freeport Indonesia, Claus Oscar Ronald Wamafma. Sementara Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menyampaikan amanat kemerdekaan secara terhubung dengan keluarga besar PTFI di Tembagapura, Kuala Kencana, Nabire, Jakarta, hingga Gresik.
Mengusung semangat “One Freeport dari Timur untuk Indonesia” dengan subtema “Dari Timur Indonesia Kita Bangkit Bersama”, PTFI menegaskan komitmennya untuk terus bersatu, bangkit, serta memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
Konsep One Freeport dimaknai sebagai persatuan seluruh keluarga besar PTFI, mulai dari kawasan pegunungan Papua hingga fasilitas smelter di Gresik. Perbedaan lokasi dan bidang kerja tidak menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan dengan berlandaskan nilai perusahaan SINCERE, yakni Safety, Integrity, Commitment, Respect, dan Excellence.
Dalam amanatnya, Tony Wenas mengatakan tema nasional “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” mencerminkan tekad seluruh bangsa untuk terus bergerak maju, memperkokoh kedaulatan, serta memastikan kesejahteraan dapat dirasakan secara merata.
“Dari lokasi-lokasi yang berbeda, mulai dari Tembagapura, Kuala Kencana, Nabire, Jakarta, dan Gresik, kita semua membaur menjadi satu keluarga besar Freeport Indonesia. One Freeport dengan satu tekad dan tujuan, yaitu menjalankan produksi secara aman dan selamat untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Di tengah momentum peringatan kemerdekaan, Tony Wenas juga mengajak seluruh keluarga besar PTFI untuk mengenang sembilan rekan kerja yang meninggal dunia dalam berbagai peristiwa selama satu tahun terakhir.
Tujuh di antaranya meninggal akibat insiden luncuran material basah di Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025, yakni Balisang Telile, Dadang Hermanto, Holong Silaban, Irawan, Victor Ballesteros, Wigih Hartono, dan Zaverius Magai.
Sementara dua lainnya, Erman Rustaman dan Simson Mulia, meninggal dalam rangkaian insiden keamanan pada kuartal pertama 2026.
Tony menegaskan bahwa mereka bukan sekadar karyawan, melainkan bagian dari keluarga besar Freeport Indonesia yang jasa dan pengabdiannya akan selalu menjadi bagian dari sejarah perusahaan.
Menurutnya, berbagai peristiwa tersebut kembali mengingatkan bahwa keselamatan jiwa pekerja merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar.
“Tidak ada yang lebih berharga daripada keselamatan jiwa rekan kerja kita. Setiap target produksi, setiap pencapaian, dan setiap keberhasilan operasional hanya memiliki makna apabila seluruh insan yang menjalankannya dapat kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga mereka dalam keadaan selamat,” tegasnya.
Ia pun menekankan bahwa Safety bukan sekadar prosedur, melainkan nilai yang harus hidup dalam setiap keputusan, tindakan, dan cara bekerja seluruh insan PTFI.
Tony menyebut proses pemulihan operasi tambang setelah insiden di GBC bukan pekerjaan mudah. Sekitar 800.000 ton material lumpur basah harus dipindahkan, sementara sejumlah infrastruktur dan alat berat mengalami kerusakan.
Lokomotif dan gerbong tertimbun, jaringan telekomunikasi terputus, hingga sistem ventilasi utama harus diganti. Namun, berkat kerja keras Recovery Team serta koordinasi seluruh tim operasi dan pendukung, proses pemulihan terus berjalan secara bertahap.
“Sekalipun badai menerpa, surut kita berpantang. Dengan pertolongan Tuhan dan kerja keras serta cekatan dari Recovery Team, upaya pemulihan operasi tambang terus berjalan bertahap sesuai dengan perencanaan kita,” katanya.
PTFI memproyeksikan kapasitas produksi dapat mencapai sekitar 65 persen pada akhir semester kedua 2026, dengan target produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas.
Kapasitas produksi diharapkan meningkat menjadi sekitar 75 persen pada pertengahan 2027 dan secara bertahap mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.
Tony juga menyampaikan bahwa smelter PTFI di Gresik telah siap kembali beroperasi. Bersama PT Smelting, fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas pemurnian sekitar 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Menurutnya, perkembangan tersebut memperkuat posisi Gresik sebagai salah satu pusat pemurnian mineral penting dalam sejarah hilirisasi Indonesia sekaligus menegaskan komitmen PTFI untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
PTFI juga terus mengembangkan Tambang Bawah Tanah Kucing Liar yang diproyeksikan menjadi salah satu sumber produksi utama perusahaan di masa depan.
Investasi pengembangan tambang tersebut telah mencapai sekitar Rp25 triliun dan secara keseluruhan diproyeksikan mencapai Rp72 triliun. Tambang Kucing Liar diproyeksikan menghasilkan lebih dari 7 miliar pound tembaga dan 6 juta ounce emas sepanjang masa operasinya.
Tony menyampaikan bahwa sepanjang 2025 PTFI memberikan kontribusi kepada negara sebesar sekitar Rp75 triliun, termasuk sekitar Rp13 triliun yang menjadi bagian Pemerintah Kabupaten Mimika, Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan kabupaten lainnya di Papua Tengah.
Ia menegaskan kontribusi tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk terus memberikan manfaat bagi negara dan masyarakat, meskipun PTFI menghadapi berbagai tantangan.
“Ketika nantinya kita mencapai kapasitas produksi 100 persen, maka kontribusi PTFI bagi negara akan mencapai lebih dari Rp100 triliun setiap tahunnya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Tony juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat di sekitar wilayah tambang dan masyarakat Papua yang terus memberikan dukungan selama proses pemulihan.
Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang ikut menjaga keberlangsungan operasi dan keamanan wilayah kerja PTFI.
Menutup amanatnya, Tony Wenas mengajak seluruh keluarga besar PTFI menjadikan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai titik kebangkitan untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan.
Ia menegaskan bahwa perjalanan hampir 60 tahun PTFI di Tanah Papua telah melewati berbagai ujian yang menguji ketangguhan dan kebersamaan seluruh pekerja.
“Dari Timur Indonesia, dari Tanah Papua untuk Indonesia, Freeport Bangkit,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh insan PTFI untuk mengisi kemerdekaan dengan bekerja secara aman, bertanggung jawab dan berkelanjutan, sekaligus terus hidup berdampingan, bekerja dan tumbuh bersama masyarakat lokal serta menjaga kelestarian alam.
“Marilah kita singsingkan lengan baju kita, isi kemerdekaan ini dengan mengelola tambang bawah tanah terbesar di dunia dan smelter tembaga single line terbesar di dunia secara aman dan berkelanjutan untuk Indonesia maju. Dari Tanah Papua untuk Indonesia,” pungkasnya

















