Timika, Torangbisa.com – Konferensi Cabang (Konfercab) III Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Mimika berlangsung di Hotel Grand Tembaga, Sabtu (27/06/2026).
Kegiatan tersebut menjadi forum tertinggi organisasi di tingkat cabang untuk melakukan evaluasi kepengurusan, menyusun arah gerak organisasi, serta memilih kepengurusan baru yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan GMNI di Kabupaten Mimika.
Konferensi cabang dibuka oleh Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Fransiskus Bokeyau, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Mimika.
Dalam sambutannya, Fransiskus menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Mimika dan panitia pelaksana yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut dengan baik.
Menurutnya, konferensi cabang merupakan forum strategis yang memiliki arti penting bagi keberlangsungan organisasi karena menjadi wadah evaluasi program kerja sekaligus momentum merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan.
“Forum ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya melalui musyawarah yang demokratis, terbuka, penuh tanggung jawab, serta mengedepankan semangat persatuan dan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” ujarnya.
Fransiskus menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting sebagai agen perubahan, kekuatan moral, dan kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sejarah, kata dia, telah membuktikan bahwa mahasiswa selalu hadir dalam setiap momentum penting perjalanan bangsa dengan gagasan, kritik yang membangun, dan solusi bagi berbagai persoalan.
Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Mimika membutuhkan kontribusi pemikiran, inovasi, dan semangat kritis generasi muda, termasuk kader-kader GMNI, untuk mendukung percepatan pembangunan daerah.
“Berbagai tantangan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, pemberdayaan masyarakat hingga pembangunan sumber daya manusia memerlukan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Fransiskus berharap GMNI Mimika terus menjadi organisasi kader yang mampu melahirkan generasi muda berintegritas, memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, jiwa kepemimpinan, serta kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Mimika selalu membuka ruang dialog dan kerja sama dengan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan dalam membangun daerah yang lebih maju, inklusif, aman, dan sejahtera.
Sementara itu, Ketua Panitia Konfercab III GMNI Mimika, Simon, mengatakan kegiatan tersebut merupakan momentum penting untuk memperkuat konsolidasi ideologis organisasi dan meneguhkan kembali komitmen kader terhadap nilai-nilai perjuangan bangsa.
Ia mengingatkan pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, tentang pentingnya memahami sejarah sebagai fondasi kesadaran kebangsaan.
“GMNI lahir dari semangat Marhaenisme dan Pancasila. Karena itu, konferensi ini bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum memperkuat komitmen kader dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara,” ujar Simon.
Ketua DPC GMNI Mimika, Kristoforus, dalam laporannya menyampaikan bahwa perjalanan organisasi di Mimika tidak terlepas dari berbagai dinamika dan tantangan.
Namun, di tengah berbagai keterbatasan, GMNI tetap konsisten menjalankan proses kaderisasi sebagai ruh organisasi.
“GMNI adalah organisasi kaderisasi. Karena itu, apapun dinamika yang terjadi harus tetap mengarah pada penguatan kader dan kemajuan organisasi,” katanya.
Ia berharap seluruh peserta konferensi dapat menjaga semangat persaudaraan dan kedewasaan dalam berorganisasi selama proses pemilihan kepengurusan baru berlangsung.
Di kesempatan yang sama, Ketua DPD GMNI Papua, Yustin, mengapresiasi perkembangan organisasi di Mimika yang dinilai terus menunjukkan kemajuan dari waktu ke waktu.
Ia menekankan pentingnya proses kaderisasi yang berkelanjutan dan kemampuan organisasi dalam menghadapi berbagai dinamika internal.
Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak diraih secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang, pembinaan kader yang konsisten, serta budaya diskusi yang sehat.
“Kita harus terus memperkuat kaderisasi, memperbanyak ruang diskusi, dan menjaga semangat kebersamaan agar organisasi ini semakin berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum GMNI, Tulus, menegaskan pentingnya peran komisariat sebagai laboratorium kaderisasi yang menjadi fondasi utama organisasi.
Ia mengingatkan para pengurus cabang agar tidak mengabaikan keberadaan komisariat karena dari sanalah kader-kader GMNI ditempa dan dibentuk.
“Komisariat adalah laboratorium. Jika laboratorium rusak, maka kaderisasi juga akan rusak. Karena itu, komisariat harus diperkuat dan dijaga dari kepentingan politik praktis,” tegasnya.
Tulus juga mendorong seluruh komisariat untuk aktif menjalankan kaderisasi sesuai modul dan silabus organisasi yang telah ditetapkan secara nasional guna mempercepat pertumbuhan kader di seluruh Indonesia.













img class="alignnone size-full wp-image-34144" src="https://torangbisa.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0247.jpg" alt="" width="1080" height="1350" />








