Timika, Torangbisa.com – Pendamping Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Papua Tengah, Deby Santoso, menyoroti belum adanya solusi konkret terhadap persoalan pencari kerja (pencaker) di Kabupaten Mimika, meskipun daerah ini memiliki banyak perusahaan besar yang beroperasi.
Hal itu disampaikannya saat diwawancarai awak media di Kantor DPRK Mimika, Selasa (02/06/2026), usai mendampingi aspirasi para pencari kerja yang menuntut perhatian pemerintah daerah terhadap persoalan ketenagakerjaan.
Menurut Deby, hingga saat ini upaya pelatihan dan penyaluran tenaga kerja di Mimika belum dilakukan secara komprehensif. Akibatnya, persoalan tingginya angka pencari kerja belum mendapatkan penyelesaian yang efektif.
“Di Mimika ada banyak perusahaan besar, tetapi pelatihan dan penyaluran tenaga kerja belum dipikirkan secara komprehensif. Sampai hari ini persoalan pencari kerja belum memiliki solusi yang benar-benar konkret,” ujarnya.
Ia menilai mekanisme perekrutan tenaga kerja seharusnya dilakukan melalui satu pintu yang dikelola pemerintah daerah atau instansi terkait. Dengan sistem tersebut, peluang kerja bagi masyarakat lokal dapat lebih terjamin dan terkontrol.
“Sebaiknya perekrutan dilakukan melalui satu pintu. Kalau diserahkan ke masing-masing perusahaan, sering kali mereka menggunakan jaringan atau referensi sendiri sehingga banyak tenaga kerja yang datang dari luar daerah,” katanya.
Deby juga mengkritisi pelaksanaan program pelatihan tenaga kerja yang dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kompetensi maupun penyerapan tenaga kerja di Mimika.
Menurutnya, program seperti Kartu Prakerja seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan keterampilan para pencari kerja, khususnya mereka yang telah lama menganggur.
“Kami melihat pelatihan yang ada belum berjalan secara komprehensif. Padahal dana pelatihan cukup besar dan seharusnya mampu membantu para pencari kerja meningkatkan keterampilan agar siap memasuki dunia kerja,” jelasnya.
Lebih lanjut, Deby berharap pemerintah daerah bersama perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Mimika dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan ketenagakerjaan agar tenaga kerja lokal dapat terserap secara maksimal.
Ia mengingatkan bahwa tingginya angka pengangguran berpotensi menimbulkan berbagai persoalan sosial di masyarakat.
“Harapan kami sangat besar agar tenaga kerja yang ada di Mimika bisa terserap maksimal. Pada dasarnya orang datang ke Mimika untuk bekerja.
Jika persoalan ini tidak ditangani dengan baik, maka bisa menimbulkan efek domino berupa masalah sosial, kriminalitas, dan berbagai persoalan lainnya,” pungkasnya.



















