Timika, Torangbisa.com – Pemerintah Kabupaten Mimika terus memperkuat penanganan malaria dengan membentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Malaria di bawah Dinas Kesehatan sebagai langkah mempercepat penurunan hingga eliminasi kasus malaria di wilayah tersebut.
Bupati Mimika, Johannes Rettob, mengatakan pembentukan UPTD Malaria dilakukan karena Kabupaten Mimika menjadi salah satu daerah penyumbang angka kasus malaria tertinggi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Johannes Rettob saat diwawancarai awak media di Hotel Horizon Diana, Rabu (20/05/2026).
“Sekarang kita sudah bentuk UPTD Malaria. Dulu namanya Malaria Center dan saya yang menjadi ketuanya, sekarang sudah menjadi UPTD di bawah Dinas Kesehatan,” ujarnya.
Menurut Johannes Rettob, tingginya angka malaria di Mimika membuat daerah tersebut menjadi pusat berbagai penelitian, pelatihan, dan studi dari Kementerian Kesehatan terkait penanganan malaria.
“Kita di Mimika memberikan kontribusi cukup besar terhadap angka malaria di Indonesia dan Papua, sehingga banyak penelitian dan pelatihan dilakukan di sini,” katanya.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Mimika juga menjalin kerja sama dengan pihak internasional, termasuk Australia bagian utara, dalam penanganan malaria.
“Kami bekerja sama dengan Australia bagian utara karena mereka juga pernah menangani malaria di wilayah masyarakat Aborigin,” jelasnya.
Johannes Rettob mengungkapkan, pemerintah daerah saat ini terus melakukan berbagai langkah penanganan malaria seperti fogging, pembagian kelambu, pendampingan pasien hingga pengobatan tuntas, serta edukasi kepada masyarakat.
“Pendampingan pasien sampai selesai minum obat terus dilakukan. Fogging dan pembagian kelambu juga berjalan terus,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga sedang memperbaiki sistem pencatatan kasus malaria agar tidak terjadi data ganda terhadap pasien yang sama.
“Kadang satu orang bisa tercatat dua kali dalam satu minggu. Ini persoalan pencatatan yang sedang kami benahi,” katanya.
Namun Johannes Rettob menegaskan, penanganan malaria tidak akan berhasil maksimal jika penyebab utamanya tidak ditangani secara serius, terutama persoalan lingkungan.
“Penyebab utama malaria paling tinggi adalah lingkungan. Air bersih, genangan air, rumput tinggi, dan kondisi lingkungan menjadi tempat berkembangnya nyamuk,” tegasnya.
Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah pusat, Kementerian Kesehatan hingga kerja sama internasional guna menurunkan angka malaria di Mimika.
“Kami terus berkolaborasi supaya target eliminasi malaria bisa tercapai,” tutupnya.


















