Adveditorial

Tangis Haru Warnai Wisuda Doktor Bram Kateyau, Anak Pesisir Mimika yang Pantang Menyerah

×

Tangis Haru Warnai Wisuda Doktor Bram Kateyau, Anak Pesisir Mimika yang Pantang Menyerah

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Daerah Kabupaten Mimika, Dr Abraham Kateyau, SE, MH, berpose bersama keluarga usai resmi menyandang gelar Doktor Hukum Universitas Trisakti di Jakarta, Selasa (5/5/2026). Di balik toga kebesaran itu tersimpan perjalanan panjang seorang anak pesisir Mimika yang menaklukkan keterbatasan lewat doa, kerja keras, dan pendidikan. (Foto: Istimewa/Torangbisa.com)

JAKARTA, (Torangbisa.com) — Riuh tepuk tangan menggema di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (5/5/2026). Di tengah ribuan wisudawan Universitas Trisakti yang mengenakan toga kebanggaan, ada satu sosok anak pesisir  Mimika,  Papua Tengah yang langkah hidupnya menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, air mata, doa, dan keteguhan hati.

Ia adalah Dr Abraham Kateyau, SE, MH. Anak kampung dari Keakwa, pesisir Mimika, tanah Amungsa dan bumi Kamoro itu akhirnya berdiri tegak di panggung akademik nasional, menyandang gelar Doktor Hukum Universitas Trisakti  sebuah capaian yang lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari perjalanan hidup penuh keterbatasan.

Di balik senyum tenangnya, tersimpan kisah seorang anak kampung yang tumbuh jauh dari akses pendidikan memadai. Dari kampung kecil di pesisir Mimika Tengah, Bram Kateyau kecil berjalan menantang keadaan, memeluk mimpi di tengah kerasnya kehidupan.

Ia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Pernah berada di titik hampir menyerah ketika biaya pendidikan menjadi tembok besar yang menghalangi langkahnya melanjutkan sekolah. Namun, keadaan tidak pernah berhasil mematahkan semangatnya.

Bram percaya, pendidikan adalah jalan pengabdian. Keyakinan itulah yang membuatnya terus melangkah, sekalipun waktu, jarak, dan tanggung jawab sebagai ASN di Kabupaten Mimika berkali-kali menguji ketahanannya.

“Saya harus menyelesaikan riset dan disertasi di tengah kesibukan tugas pelayanan. Tidak mudah, tetapi saya percaya pendidikan adalah jalan untuk membawa perubahan,” ujar Bram Kateyau dengan mata berkaca-kaca saat dihubungi di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Perjalanan menuju gelar doktor itu bukan sekadar soal kuliah dan penelitian. Ada pengorbanan waktu bersama keluarga, kelelahan dalam perjalanan dinas, hingga malam-malam panjang menyelesaikan disertasi tentang penyebaran berita bohong di media sosial yang mengandung diskriminasi.

Namun bagi Bram, semua perjuangan itu terasa kecil dibanding mimpi besarnya untuk memberi inspirasi bagi anak-anak Papua.

Ia ingin membuktikan bahwa anak kampung dari pesisir Mimika juga bisa berdiri sejajar di panggung akademik tertinggi Indonesia.

“Saya mau adik-adik Papua percaya bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat sederhana. Jangan takut bermimpi. Jangan menyerah hanya karena keterbatasan,” katanya lirih.

Kalimat itu bukan sekadar motivasi. Itu adalah suara hati seorang anak Papua yang pernah hidup dalam keterbatasan, tetapi memilih melawan keadaan dengan pendidikan.

Dari SD YPPK Santo Bonaventura Keakwa, SMP YPPK Lecocq d’Armanville Kaokanao, hingga SMA YPPK Adhi Luhur Nabire, Bram menjalani hidup dengan penuh perjuangan. Bahkan ketika sempat diterima di FKIP Universitas Cenderawasih, ia memilih mundur demi mencari jalan hidup yang lebih sesuai dengan panggilan hatinya.

Keputusan itu kemudian membawanya ke STIE Ottow Geissler Papua hingga meraih gelar Sarjana Ekonomi pada 2001.

Namun Bram tidak berhenti di sana. Baginya, belajar adalah perjalanan seumur hidup.

Puluhan tahun kemudian, anak pesisir itu akhirnya menorehkan sejarah bagi dirinya, keluarganya, dan tanah kelahirannya.

Di tengah megahnya aula JCC Jakarta, nama Abraham Kateyau dipanggil sebagai Doktor Hukum Universitas Trisakti. Sebuah momen yang mungkin dulu hanya menjadi mimpi kecil seorang anak kampung di Keakwa.

Bagi banyak orang, toga doktor adalah simbol keberhasilan. Namun bagi Bram Kateyau, toga itu adalah simbol perjuangan seorang anak Papua yang menolak menyerah pada keadaan.

Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Bahwa dari lereng Nemangkawi, dari pesisir Mimika, dari kampung sederhana yang jauh dari gemerlap kota, lahir seorang anak negeri yang berhasil menembus panggung akademik tertinggi Indonesia.

“Doa, kerja keras, kesabaran, dan pengorbanan adalah kunci. Saya percaya Tuhan tidak pernah tidur melihat perjuangan anak-anak-Nya,” ujar Bram.

Hari itu, bukan hanya keluarga Bram yang menangis haru. Karena di tengah segala keterbatasan, seorang anak kampung telah membuktikan bahwa pendidikan mampu mengubah jalan hidup, mengangkat martabat, dan menyalakan harapan bagi generasi yang akan datang.