Pendidikan

Tak Ada Lagi “Anak Tiri” di Dunia Pendidikan, Lemasko Apresiasi Kebijakan Kadisdik Setara untuk Sekolah Negeri dan Yayasan

×

Tak Ada Lagi “Anak Tiri” di Dunia Pendidikan, Lemasko Apresiasi Kebijakan Kadisdik Setara untuk Sekolah Negeri dan Yayasan

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua Lemasko Bidang Hubungan Pemerintah dan Masyarakat, Marianus Maknaipeku (foto: Riki Lodar/ Torangbisa.com)

Timika, Torangbisa.com – Ibarat roda yang lama pincang karena hanya bertumpu pada satu sisi, dunia pendidikan di Mimika kini mulai kembali seimbang. Pemerintah daerah dinilai mulai membuka ruang keadilan bagi sekolah-sekolah yayasan yang selama ini merasa terpinggirkan.

Wakil Ketua I Lemasko Bidang Pemerintahan dan Masyarakat, Marianus Maknaipeku, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Mimika di bawah kepemimpinan Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong (Joel) melalui Dinas Pendidikan, yang dinilai mulai menghadirkan keadilan dalam pengelolaan pendidikan.

Menurut Marianus, kebijakan terbaru pemerintah menjadi angin segar bagi sekolah-sekolah yayasan yang selama ini seakan “dianaktirikan” dalam sistem pendidikan daerah.

Ia menyebut, perubahan pendekatan ini menunjukkan adanya kesadaran untuk mengembalikan pendidikan ke akar rumput, mulai dari jenjang SD hingga SMA/SMK.

“Selama ini ada kerinduan besar dari kami agar sekolah yayasan juga diperhatikan. Dulu, perhatian lebih banyak ke sekolah negeri, sementara yayasan yang sudah berkontribusi besar justru kurang mendapat ruang,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan berbasis yayasan seperti YPPK, YPK, Yapis, hingga YPPGI telah lama menjadi tulang punggung pembangunan sumber daya manusia di Papua, termasuk di Mimika. Karena itu, menurutnya, sudah seharusnya pemerintah memberikan dukungan yang setara.

Marianus juga menyoroti kebijakan di masa lalu yang menarik banyak guru dari sekolah yayasan ke sekolah negeri. Hal tersebut dinilai berdampak pada penurunan kualitas pendidikan di sejumlah sekolah yayasan.

“Ini yang sangat kami sayangkan. Tidak boleh ada kesan dendam atau perlakuan berbeda. Pendidikan itu harus dibangun bersama, bukan dipisah-pisahkan,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan bahwa seorang kepala dinas pendidikan harus benar-benar memahami visi dan misi pembangunan pendidikan, serta memiliki rasa memiliki terhadap daerah dan masyarakatnya.

“Kalau dia merasa memiliki daerah ini, maka dia juga akan memperhatikan semua elemen pendidikan tanpa terkecuali,” tambahnya.

Lebih lanjut, Marianus menyatakan dukungannya terhadap langkah Kepala Dinas Pendidikan Mimika yang mulai membuka ruang kesetaraan bagi sekolah negeri dan yayasan.

“Sekarang tidak ada lagi perbedaan. Kalau makan roti ya sama-sama makan roti, kalau makan nasi ya sama-sama makan nasi. Artinya, semua punya hak yang sama dalam membangun SDM Mimika,” pungkasnya.