Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Mimika Menuju Eliminasi Kaki Gajah, Dua Kasus Kronis Ditemukan hingga Juni 2026

×

Mimika Menuju Eliminasi Kaki Gajah, Dua Kasus Kronis Ditemukan hingga Juni 2026

Sebarkan artikel ini
Kepala Seksi/Bidang Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Kamaluddin, Saat ditemui awak media di kantornya (Foto: Yani/ Torangbisa.com). 

Timika, Torangbisa.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terus melakukan surveilans terhadap penyakit filariasis atau yang dikenal sebagai penyakit kaki gajah, sebagai bagian dari upaya menuju eliminasi penularan penyakit tersebut di wilayah Mimika.

Kepala Seksi/Bidang Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Kamaluddin, mengatakan Mimika saat ini telah memasuki tahap surveilans setelah sebelumnya berhasil melewati sejumlah tahapan penilaian transmisi filariasis.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

“Kita sekarang dalam tahap surveilans. Sebelumnya kita mencari kasus kronis filariasis. Untuk pengobatan pencegahan massal itu sementara kita tidak lagi menjalankannya, kecuali ada kasus positif di situ,” ujar Kamaluddin saat ditemui awak media di kantornya, Selasa (29/9/2026).

Ia menjelaskan, Mimika telah melewati penilaian transmisi penularan lokal pada 2024.

Selanjutnya, pada 2025, Kementerian Kesehatan melakukan Transmission Assessment Survey (TAS) tahap pertama untuk menilai keberadaan penularan filariasis di Mimika.

Penilaian tersebut dilakukan di 33 lokasi dan Mimika dinyatakan lulus.

“Untuk filariasis ini kita sudah melangkah ke tahun 2024. Kita lulus penilaian transmisi penularan lokal. Kemudian tahun 2025 ada penilaian dari Kementerian Kesehatan untuk TAS 1, untuk menilai penularan filariasis di Mimika di 33 lokasi. Kita lulus,” jelasnya.

Menurut Kamaluddin, saat ini pihaknya melakukan pemantauan melalui surveilans untuk mengetahui apakah masih terdapat kasus filariasis di masyarakat.

Selanjutnya, pada 2027 akan dilakukan TAS tahap kedua di 33 lokasi berbeda untuk memastikan apakah masih terjadi transmisi atau penularan lokal filariasis di Mimika.

“Sekarang kita surveilans untuk memantau apakah ada kasus-kasus. Nanti tahun 2027 kita akan TAS 2 untuk menilai apakah ada transmisi lokal lagi atau tidak,” katanya.

Kamaluddin mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Juni 2026, pihaknya menemukan dua kasus kronis filariasis di Mimika. Masing-masing ditemukan di kawasan Pasar Sentral Timika dan Limau Asri.

“Januari sampai dengan Juni ini ada satu kasus di Pasar Sentral dan ada satu kasus di Limau Asri, kasus kronis,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kasus kronis filariasis biasanya ditandai dengan pembesaran anggota tubuh, terutama kaki, akibat dampak penyakit yang telah berlangsung lama.

Untuk penderita yang sudah mengalami pembesaran kaki, penanganan dilakukan melalui perawatan untuk mencegah terjadinya infeksi dan mengurangi dampak penyakit.

“Kalau kasus kronis itu kan kakinya sudah besar. Itu ditangani sama teman-teman puskesmas, bagaimana perawatan kakinya supaya tidak infeksi,” jelas Kamaluddin.

Ia menambahkan, penanganan terhadap masyarakat di sekitar lokasi ditemukannya kasus juga telah dilakukan, termasuk di kawasan Pasar Sentral.

Kamaluddin mengatakan, apabila Mimika kembali dinyatakan lulus pada tahapan penilaian berikutnya, maka daerah ini akan semakin dekat dengan target eliminasi filariasis.

Setelah TAS tahap kedua pada 2027, pemantauan akan kembali dilakukan. Jika hasilnya tetap menunjukkan tidak adanya transmisi lokal, Mimika selanjutnya akan menghadapi penilaian tahap ketiga.

“Kalau kita lulus di 2027, kita surveilans lagi untuk memantau apakah ada kasus kronis lagi atau tidak. Kemudian 2029 akan tahap ketiga, namanya penilaian tahap ketiga,” ujarnya.

Menurutnya, apabila Mimika berhasil melewati seluruh tahapan tersebut, maka daerah ini dapat memperoleh sertifikasi eliminasi filariasis.

“Kalau lulus di 2029, berarti kita dapat sertifikat bebas filariasis,” katanya.

Kamaluddin menyebutkan, hingga saat ini pihaknya belum menemukan kasus filariasis baru yang menunjukkan penularan aktif. Dua kasus yang ditemukan merupakan kasus kronis.

Ia menjelaskan, penderita filariasis sering kali baru diketahui ketika telah mengalami pembengkakan pada kaki atau anggota tubuh lainnya.

“Orang filariasis ini ketika kakinya sudah besar baru kelihatan. Itu biasanya sudah kronis,” katanya.

Untuk kondisi yang sudah menyebabkan pembesaran kaki, penanganannya lebih difokuskan pada perawatan dan pencegahan komplikasi, bukan mengembalikan ukuran kaki seperti semula.

“Jadi dia perawatan saja,” pungkasnya.