Timika, Torangbisa.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mencatat sebanyak 63.856 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi di wilayah Kabupaten Mimika sepanjang minggu pertama hingga minggu ke-35 tahun 2026.
Data tersebut merupakan hasil pencatatan surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika berdasarkan kasus ISPA yang datang dan mendapatkan pelayanan di berbagai fasilitas kesehatan di Mimika.
Kepala Seksi/Bidang Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Kamaluddin, mengatakan ISPA masih menjadi salah satu penyakit yang cukup banyak ditemukan di fasilitas kesehatan.
“Yang tercatat di surveilans kami, dari minggu pertama sampai minggu ke-35 tahun 2026 ada 63.856 kasus ISPA yang datang dari seluruh fasilitas kesehatan di Mimika,” ujar Kamaluddin saat ditemui awak media di kantornya, Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, ISPA dari tahun ke tahun masih termasuk dalam daftar penyakit dengan jumlah kasus tinggi di Mimika. Selain malaria, ISPA juga menjadi salah satu penyakit yang banyak ditemukan di pusat-pusat pelayanan kesehatan.
Kamaluddin mengatakan kondisi cuaca, terutama saat musim kemarau yang disertai debu serta munculnya asap, dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai masyarakat.
“Memang dari tahun ke tahun masih tinggi ISPAnya. Apalagi saat ini kondisinya berasap. Waktu kemarin kemarau banyak debu, kemudian sekarang ada asap,” jelasnya.
Meski demikian, Kamaluddin mengaku pihaknya belum dapat memastikan apakah kondisi asap saat ini telah menyebabkan peningkatan kasus ISPA secara signifikan karena masih membutuhkan data pembanding dengan periode sebelumnya.
“Kalau meningkat sekali sih tidak tahu. Karena kabut asapnya juga tidak searah. Saya belum ada pembandingnya. Nanti saya lihat pembandingnya kalau dibandingkan dengan tahun lalu,” katanya.
Ia menjelaskan, data surveilans yang dimiliki bidangnya saat ini lebih berfokus pada jumlah keseluruhan kasus. Sementara data yang lebih rinci mengenai kelompok usia maupun karakteristik penderita berada pada bagian atau tim yang menangani pencatatan kasus secara lebih spesifik.
Terkait kondisi udara yang saat ini dipengaruhi asap, Kamaluddin mengimbau masyarakat untuk meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Masyarakat juga diminta menggunakan masker sebagai perlindungan, khususnya ketika berada di luar rumah dan kondisi udara dipenuhi debu maupun asap.
“Pertama tentunya menjaga dan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Kalau lagi kemarau banyak debu, kemudian sekarang ada asap, masker juga digunakan untuk proteksi,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat yang mengalami keluhan terkait gangguan pernapasan agar segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.
Menurutnya, paparan asap dapat memperberat kondisi orang yang sebelumnya telah memiliki gangguan pernapasan, seperti asma.
“Kalau orang yang punya misalnya ada riwayat asmanya, atau ada yang lebih berat, dengan asap begini biasanya keluhannya akan lebih berat sampai bisa sesak. Itu yang harus dihindari,” katanya.
Karena itu, masyarakat yang tidak memiliki kepentingan mendesak untuk keluar rumah disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara sedang dipenuhi asap.
Sementara untuk menentukan apakah kualitas udara saat ini masih berada pada kondisi aman atau tidak, Kamaluddin mengatakan hal tersebut harus berdasarkan hasil pengukuran menggunakan alat khusus untuk memantau kualitas udara.













