Scroll untuk baca artikel
Organisasi

HAPAK Nilai Pengusaha Amungme-Kamoro Masih Kurang Diberdayakan

×

HAPAK Nilai Pengusaha Amungme-Kamoro Masih Kurang Diberdayakan

Sebarkan artikel ini
Ketua Honai Adat Pengusaha Amungme Kamoro (HAPAK), Tenius Kum Saat diwawancarai awak media (Foto: Yani/ Torangbisa.com). 

Timika, Torangbisa.com – Ketua Honai Adat Pengusaha Amungme Kamoro (HAPAK), Tenius Kum, menilai pengusaha asli Amungme dan Kamoro di Kabupaten Mimika hingga saat ini masih kurang mendapatkan perhatian dan pemberdayaan, baik dari pemerintah maupun pihak swasta.

Hal tersebut disampaikan Tenius Kum saat diwawancarai awak media usai menghadiri Musyawarah Kabupaten (Muskab) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Mimika yang berlangsung di Hotel Grand Tembaga, Sabtu (06/06/2026).

Menurutnya, pengusaha lokal Orang Asli Papua, khususnya Amungme dan Kamoro, masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan usaha mereka. Karena itu, HAPAK selama beberapa tahun terakhir fokus melakukan pembinaan terhadap anggotanya agar mampu bersaing secara sehat dengan pelaku usaha lainnya.

“Untuk sementara ini, anak-anak pengusaha lokal masih kurang diberdayakan, baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. Karena itu kami di HAPAK terus berupaya meningkatkan kapasitas anggota, terutama dalam hal legalitas perusahaan, pengelolaan usaha, dan pengembangan sumber daya manusia,” ujar Tenius.

Ia menjelaskan bahwa selama dua periode terakhir, HAPAK lebih memprioritaskan pembenahan administrasi dan peningkatan kemampuan para pengusaha lokal agar memiliki kesiapan yang memadai dalam dunia usaha.

“Kami terus menata legalitas perusahaan dan kemampuan SDM supaya bisa berimbang dengan pengusaha-pengusaha lain. Karena kalau hanya menuntut hak sebagai pemilik daerah tetapi kemampuan belum siap, maka akan sulit bersaing,” katanya.

Tenius berharap keberadaan Kadin Mimika di bawah kepemimpinan yang baru dapat menjadi wadah yang mampu mengakomodasi kepentingan pengusaha Amungme dan Kamoro serta membuka ruang yang lebih luas bagi keterlibatan mereka dalam pembangunan ekonomi daerah.

Selain itu, ia meminta pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Mimika untuk lebih serius melakukan pembinaan terhadap pengusaha lokal.

“Pemerintah harus serius membina. Harus ada pengusaha lokal yang bisa berkembang dan memiliki kapasitas yang setara dengan pengusaha-pengusaha besar yang sudah lebih dulu sukses. Itu yang harus didorong bersama,” ujarnya.

Menurut Tenius, pembinaan yang dilakukan tidak boleh hanya bersifat formalitas atau sekadar memberikan kesempatan sesaat tanpa memperhatikan kesiapan pelaku usaha. Sebaliknya, perlu dilakukan pendampingan yang berkelanjutan agar lahir pengusaha lokal yang benar-benar tangguh dan mampu bersaing.

“Kita harus mencari anak-anak muda yang benar-benar siap dan mau terus meningkatkan kemampuan dirinya. Mereka perlu dibina secara serius agar bisa berkembang dan bersaing dengan pengusaha lainnya,” tegasnya.

Ia juga mendorong perusahaan-perusahaan besar di Kabupaten Mimika untuk tidak menutup diri terhadap pengusaha lokal. Menurutnya, keterlibatan pengusaha Amungme dan Kamoro dalam berbagai sektor usaha harus dibarengi dengan proses kaderisasi yang jelas.

“Perusahaan-perusahaan besar harus melibatkan pengusaha lokal dan melakukan kaderisasi. Ketika mereka berhasil berkembang, itu juga menjadi kebanggaan bagi perusahaan yang telah membina mereka sejak awal,” katanya.

Tenius berharap ke depan terdapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah, Kadin, maupun sektor swasta dalam menciptakan pengusaha-pengusaha Amungme dan Kamoro yang mandiri, profesional, dan mampu menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi di Kabupaten Mimika.