Timika, Torangbisa.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mimika menggelar presentasi pengelolaan air minum dan air limbah domestik yang berlangsung di Ruang Rapat Kantor Bupati Gedung A Lantai 3, Selasa (24/2/2026).
Dalam presentasi tersebut dihadiri oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob, Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong, Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau dan Pj. Sekda Mimika, Abraham Kateyau, Direktur PT Air Minum dan pimpinan Yayasan Gapi Harapan Papua.
Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyampaikan apresiasi kepada Sekretaris Daerah, Ketua DPRK, pimpinan komisi, serta para pimpinan instansi dan perwakilan perusahaan yang hadir, termasuk Direktur PT Air Minum dan pimpinan Yayasan Gapi Harapan Papua.
Pertemuan tersebut juga membahas hasil pertemuan sebelumnya terkait pengelolaan air bersih di Kabupaten Mimika.
Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah telah melakukan investasi besar dalam pembangunan infrastruktur air minum, namun pemanfaatannya belum optimal.
“Kita sudah bangun cukup banyak sambungan rumah, hanya memang belum semuanya teraliri. Ini yang perlu kita lihat bersama bagaimana pola pengelolaannya,” jelasnya.
Menurut Bupati, pengelolaan air minum ke depan direncanakan dilakukan secara profesional. Jika hanya mengandalkan UPTD dengan keterbatasan sumber daya manusia dan pendampingan teknis, pemerintah daerah dinilai belum mampu menjalankan secara maksimal.
Ia juga menyinggung tantangan di lapangan, seperti kerusakan fasilitas dan hilangnya meter air yang baru dipasang. Bahkan ada oknum yang merusak fasilitas dalam kondisi mabuk, sehingga menghambat pelayanan kepada masyarakat.
“Pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Kita butuh kerja sama dengan pihak sosial dan profesional supaya masyarakat benar-benar bisa menikmati air bersih yang sehat,” tegasnya.
Air Bersih untuk Kesehatan dan Kesejahteraan, Bupati menyebut, air bersih merupakan salah satu ikon pembangunan daerah yang sangat penting bagi kesehatan masyarakat.
Saat ini, sebagian besar warga Mimika masih menggunakan air tanah secara mandiri, dengan kualitas yang berbeda-beda di tiap wilayah.
“Ada daerah yang airnya kuning, ada juga yang jernih. Bahkan penjualan filter sudah marak karena masyarakat berupaya mengolah sendiri,” ungkapnya.
Ia berharap melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pihak swasta, dan pemangku kepentingan lainnya, pengelolaan air bersih dapat berjalan optimal sehingga masyarakat hidup lebih sehat, cerdas, aman, dan damai.
“Kalau masyarakat sehat, cerdas, aman dan damai, pasti kita bisa menuju kabupaten yang sejahtera,” tutupnya.











