Timika, Torangbisa.com – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Mimika, Johana Arwam, menyampaikan keprihatinannya atas kasus seorang anak berusia 10 tahun yang ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri.
Johana menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan diskusi internal di dinas begitu menerima informasi terkait kasus tersebut.
Ia juga langsung berkoordinasi dengan P2TP2A serta pihak kepolisian, termasuk Polsek Kuala Kencana melalui unit Reskrim.
“Kami sudah berkoordinasi dengan teman-teman P2TP2A dan juga pihak kepolisian. Namun sampai saat ini belum ada laporan resmi yang masuk ke P2TP2A dari pihak keluarga,” ujarnya.
Ia menegaskan, DP3AP2KB siap memberikan pendampingan apabila keluarga korban datang untuk melapor atau membutuhkan dukungan dalam proses lanjutan.
“Kami masih menunggu jika ada pihak keluarga yang datang dan melaporkan secara resmi. Kami pasti siap mendampingi dalam proses selanjutnya,” tegasnya.
Menurut Johana, kejadian tersebut sangat miris dan tidak seharusnya terjadi, terlebih korban masih berusia anak-anak.
“Kita bayangkan saja, ini anak kecil, bukan remaja. Sampai saat ini kita juga belum mengetahui secara pasti apa dan mengapa hal ini bisa terjadi. Tentu kita menunggu hasil penyelidikan dari pihak kepolisian,” katanya.
Ia menekankan bahwa dalam kasus ini tidak perlu saling menyalahkan, namun yang terpenting adalah memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali di Kabupaten Mimika.
Sebagai langkah pencegahan, DP3AP2KB berencana meningkatkan sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat.
Edukasi akan dilakukan melalui organisasi kemasyarakatan maupun tempat-tempat ibadah guna memberikan pemahaman tentang pentingnya pola asuh yang sehat dan komunikasi yang baik dalam keluarga.
“Kami punya kerinduan agar ke depan ada sosialisasi yang terus dilakukan. Ini bukan hanya sebagai pegawai pemerintah, tetapi juga sebagai orang tua yang peduli terhadap masa depan anak-anak kita,” ungkapnya.
Johana juga menyampaikan pesan kepada para orang tua agar lebih bijak dalam mendidik anak. Ia mengingatkan bahwa kekerasan tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga bisa berupa kekerasan psikis melalui kata-kata yang menyakitkan.
“Kadang kita berdalih mendidik supaya anak patuh, tetapi cara yang kita lakukan keliru. Bahkan kata-kata saja bisa menjadi kekerasan psikis. Alasan ekonomi atau kelelahan bekerja bukan pembenaran untuk melukai anak,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan dididik dengan kasih sayang.
“Ada banyak cara mendidik anak tanpa kekerasan dan tanpa cacimaki. Mari kita jaga anak-anak kita dengan hati yang tulus,” pungkasnya.














