Timika, Torangbisa.com – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Mimika, Johana Anatje Belandina Arwam, mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam mengolah pangan lokal sebagai upaya meningkatkan gizi keluarga, mencegah stunting, sekaligus mendukung perekonomian rumah tangga.
Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai awak media usai kegiatan di Hotel Kangguru, Kabupaten Mimika, Rabu (03/06/2026).
Menurut Johana, selama ini pangan lokal seperti sagu dan ikan sering kali hanya diolah dengan cara sederhana, seperti dibakar, direbus, digoreng, atau dijadikan papeda. Padahal, jika diolah menjadi berbagai jenis makanan yang lebih menarik, minat konsumsi masyarakat, terutama anak-anak, dapat meningkat.
“Kalau makanan yang disajikan hanya dengan cara yang sama setiap hari, tentu anak-anak maupun anggota keluarga akan merasa bosan. Tetapi jika diolah menjadi menu yang lebih menarik, mereka akan lebih senang mengonsumsi pangan lokal,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pangan lokal, khususnya sagu, memiliki kandungan gizi yang cukup baik dan dapat menjadi salah satu sumber pangan yang mendukung kebutuhan nutrisi keluarga. Karena itu, diperlukan inovasi dalam pengolahan agar pangan lokal semakin diminati masyarakat.
Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, pengolahan pangan lokal juga dapat menjadi peluang usaha yang berpotensi meningkatkan pendapatan rumah tangga.
“Ketika pangan lokal diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, manfaatnya tidak hanya untuk konsumsi keluarga, tetapi juga bisa menjadi sumber pendapatan ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Johana mencontohkan pengolahan ikan yang selama ini umumnya hanya dibakar, direbus, atau digoreng. Dengan kreativitas, ikan dapat diolah menjadi berbagai produk makanan seperti nugget ikan yang lebih disukai anak-anak dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
“Sekarang banyak produk olahan yang diminati anak-anak. Misalnya ikan diolah menjadi nugget, tentu akan lebih menarik dan membantu meningkatkan konsumsi protein pada anak,” jelasnya.
Menurutnya, upaya pemanfaatan pangan lokal yang lebih inovatif juga menjadi salah satu strategi dalam pencegahan dan penanganan stunting di Kabupaten Mimika. Dengan meningkatnya konsumsi makanan bergizi dan bertambahnya pendapatan keluarga, maka kesejahteraan masyarakat dapat ikut meningkat.
“Pencegahan stunting tidak hanya berbicara soal makanan bergizi, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan anak secara berkelanjutan,” tuturnya.
Ia berharap masyarakat semakin memanfaatkan potensi pangan lokal yang tersedia di daerah sebagai sumber gizi sekaligus peluang usaha yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.

















