Timika, Torangbisa.com – Alumni Penerima Beasiswa Dana Kemitraan YPMAK didorong tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Pesan tersebut mengemuka dalam Workshop Perkumpulan Alumni Penerima Beasiswa Dana Kemitraan PAPEDA–YPMAK bertema “Eksistensi Alumni untuk Masa Depan Ketenagakerjaan di Tanah Amungsa Bumi Kamoro” yang berlangsung di Hotel Horizon Diana Timika, Rabu (21/10/2026).
Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Fransiskus Bokeyau, mengatakan bahwa pendidikan yang diperoleh melalui dukungan beasiswa harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
Dalam sambutan mewakili Wakil Bupati Mimika yang sedang melaksanakan tugas pemerintahan di luar daerah, Fransiskus menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyelenggarakan workshop tersebut.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kelulusan dan prestasi akademik. Lebih dari itu, alumni harus mampu menerapkan ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, dan pengalaman untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Alumni diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang kerja, mengembangkan usaha, menghadirkan inovasi, serta mengambil peran strategis dalam berbagai sektor pembangunan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan dunia kerja semakin dinamis seiring perkembangan teknologi, persaingan kompetensi, serta kebutuhan dunia usaha dan industri yang terus berubah.
Karena itu, alumni penerima beasiswa, khususnya putra-putri Amungme, Kamoro, dan lima suku kekerabatan lainnya, perlu terus meningkatkan kompetensi, memperkuat etos kerja, menjaga integritas, serta mengembangkan kemampuan beradaptasi.
Fransiskus menegaskan, persoalan ketenagakerjaan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha dan industri, YPMAK, lembaga pendidikan, serta organisasi alumni.
Melalui kerja sama tersebut, diharapkan terbuka akses informasi dan kesempatan kerja yang lebih luas, pelatihan sesuai kebutuhan industri, serta pendampingan kewirausahaan bagi generasi muda.
Ia juga berharap Perkumpulan Alumni PAPEDA–YPMAK dapat menjadi jembatan antara dunia pendidikan, dunia kerja, dunia usaha, dan kebutuhan pembangunan daerah.
“Kita ingin putra-putri asli Papua tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan di tanahnya sendiri, tetapi tampil sebagai pelaku utama yang memiliki kompetensi, daya saing, dan kemampuan untuk berkontribusi dalam berbagai bidang pekerjaan dan usaha,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua YPMAK, Leonardus Tumuka, menekankan pentingnya pendataan seluruh alumni penerima beasiswa agar potensi dan kondisi mereka dapat diketahui secara menyeluruh.
Menurutnya, pendataan tidak boleh hanya menyasar alumni yang telah berhasil mendapatkan pekerjaan atau memiliki kehidupan mapan.
Alumni yang masih menghadapi keterbatasan ekonomi, termasuk mereka yang berada di wilayah pesisir dan pedalaman, juga harus mendapat perhatian.
“Seluruh alumni kita perlu didata. Kita harus mengetahui mereka berada di mana dan bekerja sebagai apa. Jangan sampai ada alumni yang tidak terjangkau, termasuk mereka yang masih hidup dalam keterbatasan,” ujarnya.
Leonardus mengatakan, dukungan pendidikan melalui YPMAK telah memberikan kesempatan kepada banyak anak Papua untuk mengenyam pendidikan. Namun, pengembangan sumber daya manusia masih membutuhkan kerja bersama agar manfaat pendidikan dapat dirasakan lebih luas.
Ia menjelaskan, intervensi YPMAK tidak hanya berfokus pada bidang pendidikan, tetapi juga mencakup sektor ekonomi dan kesehatan.
Leonardus mengungkapkan, YPMAK telah menjalin nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Mimika.
Kerja sama tersebut sedang ditindaklanjuti melalui penyusunan perjanjian kerja sama (PKS) pada bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Dalam pelaksanaannya, keterlibatan alumni dinilai penting untuk mendukung berbagai program dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
“Alumni harus menjadi solusi bagi pemerintah daerah, lembaga adat, dan masyarakat kita di pesisir maupun pegunungan. Kita berharap alumni hadir sebagai problem solver, orang-orang yang mampu menyelesaikan masalah,” tegasnya.
Leonardus juga mengajak para alumni dan generasi muda agar tidak hanya bergantung pada kesempatan kerja yang tersedia, tetapi mulai mengembangkan usaha dengan memanfaatkan potensi lokal.
Ia mencontohkan, kekayaan alam Mimika harus dikelola melalui usaha nyata, mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan, hingga perikanan. Potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila masyarakat hanya menunggu tanpa berinisiatif mengembangkannya.
Menurutnya, usaha tidak harus dimulai dalam skala besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Jangan hanya berharap sesuatu yang besar. Mulailah dari hal kecil, kemudian kembangkan sampai menjadi besar dan menjadi berkat bagi banyak orang,” pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam agar kekayaan yang dimiliki Mimika tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
Leonardus berharap workshop tersebut menjadi ruang bagi alumni untuk bertukar pengalaman, memperkuat solidaritas, mengembangkan kreativitas, serta merumuskan langkah konkret dalam menjawab persoalan ketenagakerjaan.

















