Scroll untuk baca artikel
Kabar Kampung

Peletakan Batu Pertama Balai Kampung Pronggo: Pembangunan Berjalan Seiring dengan Adat dan Kearifan Lokal

×

Peletakan Batu Pertama Balai Kampung Pronggo: Pembangunan Berjalan Seiring dengan Adat dan Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
Proses peletakan batu pertama pembangunan Balai Kampung Pronggo (Foto: Istimewa)

Timika, Torangbisa.com — Pembangunan Balai Kampung Pronggo, Distrik Mimika Tengah, Kabupaten Mimika, diawali dengan sebuah prosesi adat yang sarat makna.

Prosesi tersebut menjadi bagian penting sebelum dimulainya pembangunan, sekaligus mencerminkan penghormatan terhadap adat, budaya, serta nilai-nilai yang telah hidup dan diwariskan oleh masyarakat setempat.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Peletakan batu pertama ini bukan sekadar seremoni pembangunan sebuah bangunan. Bagi masyarakat Kampung Pronggo, proses tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pembangunan yang hadir di tengah masyarakat harus berjalan dengan menghargai adat dan istiadat setempat.

Pembangunan Balai Kampung Pronggo dilaksanakan melalui CV. Fombath Utama dalam kegiatan pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kabupaten Mimika.

Kesempatan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Faya Naa, selaku bagian dari pelaku usaha OAP Papua, untuk dapat mengambil bagian dalam pembangunan di wilayah Kabupaten Mimika.

Faya Naa menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bupati Mimika, Johannes Rettob, S.Sos., M.M., atas dukungan pemerintah daerah terhadap pembangunan kampung serta kesempatan bagi pelaku usaha lokal Papua untuk turut berkontribusi dalam pembangunan daerah. Pemerintah Kabupaten Mimika saat ini dipimpin Johannes Rettob bersama Wakil Bupati Emanuel Kemong untuk periode 2025–2030.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Abraham Kateyau, S.E., M.H., atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan dalam proses pembangunan. Pemerintah Kabupaten Mimika mencatat Abraham Kateyau sebagai pejabat yang menangani pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat serta kampung, dan pada 2026 juga menjalankan tugas sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Mimika.

Menurut Faya Naa, pengalaman di Kampung Pronggo memberikan sebuah pesan penting bagi pembangunan Mimika ke depan: kemajuan pembangunan tidak boleh membuat adat dan budaya masyarakat semakin jauh dari kehidupan pembangunan itu sendiri.

Setiap pembangunan yang masuk ke kampung sebaiknya tidak hanya dimulai dengan pekerjaan fisik, tetapi juga dengan menghormati masyarakat adat, mendengarkan masyarakat setempat, serta memahami nilai dan tradisi yang berlaku di wilayah tersebut.

Prosesi adat yang mengawali pembangunan Balai Kampung Pronggo menjadi contoh bahwa pembangunan fisik dan adat dapat berjalan berdampingan.

“Pembangunan bukan hanya tentang mendirikan sebuah bangunan. Pembangunan juga harus menghargai adat, budaya, masyarakat dan tanah tempat pembangunan itu dilaksanakan,” Faya.

Pesan tersebut menjadi semakin penting bagi wilayah-wilayah kampung dan pesisir Mimika yang memiliki kekayaan budaya serta kehidupan masyarakat yang erat dengan adat dan lingkungan sekitarnya.

Ke depan, pembangunan diharapkan semakin memberikan ruang bagi keterlibatan masyarakat lokal dan pelaku usaha OAP, sekaligus tetap memperhatikan adat, budaya dan kearifan lokal.

Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga membangun rasa memiliki dan kepercayaan masyarakat terhadap proses pembangunan.

Balai Kampung Pronggo nantinya diharapkan dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk menjalankan pelayanan pemerintahan kampung, musyawarah, kegiatan sosial, serta berbagai aktivitas kemasyarakatan.

Bagi CV. Fombath Utama dan Faya Naa, keterlibatan dalam pembangunan ini bukan hanya sebuah pekerjaan, tetapi juga kesempatan untuk memberikan kontribusi nyata bagi kampung dan masyarakat Papua.

Dari pembangunan fisik, kita belajar bahwa kemajuan harus tetap berpijak pada adat. Karena membangun Papua bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi membawa kemajuan dengan tetap menghormati jati diri masyarakat Papua.