Scroll untuk baca artikel
Mimika

Mimika Punya 300 Ribu Hektare Sagu, 100 Hektare Dipelihara Tahun Ini

×

Mimika Punya 300 Ribu Hektare Sagu, 100 Hektare Dipelihara Tahun Ini

Sebarkan artikel ini
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Mimika, Abdul Haris Sudharmono Saat diwawancarai (Foto: Yani/ Torangbisa.com). 

Timika, Torangbisa.com — Kabupaten Mimika memiliki potensi kawasan sagu yang sangat luas. Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mimika serta data statistik, luas kawasan sagu di daerah ini mencapai sekitar 300 ribu hektare.

Plt Kepala DTPHP Kabupaten Mimika, Abdul Haris Sudharmono, mengatakan kawasan sagu tersebut menjadi salah satu potensi perkebunan yang terus mendapat perhatian pemerintah.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Hal itu disampaikan Abdul Haris saat diwawancarai awak media usai apel pagi di Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Senin (14/9/2026).

“Kalau sagu itu menurut data ada 300 ribu hektare, termasuk dusun sagu terluas di Papua ini, daerah Iwaka ke sana,” ujar Abdul Haris.

Ia menjelaskan, data tersebut berasal dari DTPHP melalui bidang perkebunan yang kemudian diperkuat dengan data statistik.

Menurutnya, dari luas kawasan sagu tersebut, program pemeliharaan tahun ini dilakukan secara bertahap pada sekitar 100 hektare. Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari pemerintah pusat.

“Perawatannya itu sekitar 100 hektare, itu bertahap dan dibayar dari pusat. Tahun ini ada,” jelasnya.

Abdul Haris mengatakan, dukungan pemerintah pusat dalam program tersebut lebih banyak diberikan dalam bentuk peralatan, bukan anggaran tunai.

Bantuan peralatan tersebut antara lain berupa senso (chainsaw), parang, sekop dan dodos yang digunakan masyarakat untuk melakukan pemeliharaan dusun sagu.

“Anggarannya kami cuma menerima bantuan alat saja. Dalam bentuk alat ada senso, kemudian parang, ada sekop, ada dodos. Itu paketnya. Setiap tahun ada, tahun lalu ada, tahun ini ada,” katanya.

Peralatan tersebut diberikan kepada masyarakat yang berada di wilayah sentra sagu, termasuk Pigapu dan daerah-daerah pemangku di sekitarnya.

Abdul Haris menjelaskan, kegiatan pemeliharaan bukan hanya sekadar membersihkan kawasan, tetapi juga menata dusun sagu agar lebih mudah diakses masyarakat ketika melakukan panen.

Dodos, misalnya, digunakan untuk membantu mengeluarkan pelepah sagu. Sementara peralatan lainnya digunakan untuk membersihkan semak dan menata kawasan.

“Tujuannya supaya tertata, bagus dilewati untuk panen dan tanaman pokoknya bisa tumbuh baik. Semak-semak kita bersihkan dari situ,” jelasnya.

Untuk tahun ini, kegiatan pemeliharaan dilakukan di kawasan Pigapu, Kapau hingga Mioko dan wilayah sentra sagu di sekitarnya.

Sementara pada tahun sebelumnya, program serupa dilaksanakan di wilayah Kalikopi.

Dalam pelaksanaan kegiatan di sejumlah wilayah, DTPHP juga berkolaborasi dengan PT Freeport Indonesia, khususnya dalam membantu akses menuju lokasi yang tidak dapat dimasuki secara sembarangan.

“Kami juga dibantu oleh Freeport untuk sampai di lokasi, karena kita tidak sembarang masuk di daerah Kalikopi. Kita berkolaborasi,” ungkap Abdul Haris.

Ia menegaskan, keberadaan kawasan sagu yang sangat luas tersebut merupakan potensi penting bagi masyarakat Mimika. Karena itu, pemeliharaan dusun sagu perlu dilakukan secara berkelanjutan agar potensi tersebut tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan masyarakat.

Abdul Haris berharap dukungan pemerintah dan keterlibatan masyarakat dapat terus berjalan sehingga kawasan sagu Mimika tidak hanya terjaga, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan bagi masyarakat.