Scroll untuk baca artikel
Mimika

El Nino Ancam Produksi Pertanian Mimika, DTPHP Siapkan 12 Titik Jaringan Irigasi Air Tanah

×

El Nino Ancam Produksi Pertanian Mimika, DTPHP Siapkan 12 Titik Jaringan Irigasi Air Tanah

Sebarkan artikel ini
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Mimika, Abdul Haris Sudharmono Saat diwawancarai (Foto: Yani/ Torangbisa.com). 

Timika, Torangbisa.com — Fenomena El Nino yang menyebabkan kondisi semakin kering mulai menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Mimika, khususnya terhadap sektor pertanian dan ketersediaan pangan masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Mimika, Abdul Haris Sudharmono, mengatakan kondisi kekeringan berpotensi menurunkan produksi pertanian sekaligus mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Hal tersebut disampaikan Abdul Haris saat diwawancarai awak media usai apel pagi di Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, dalam jangka pendek petani masih dapat melakukan sejumlah langkah untuk menghadapi kondisi tersebut. Salah satunya dengan mengembangkan tanaman padi gogo serta membuat sumur di sekitar area pertanian.

“Jangka pendek ini seperti sawah juga, tapi yang masih bisa kita atasi dengan pertanian padi gogo. Kemudian yang sangat dibutuhkan itu sayur-mayur, terutama cabai, itu yang membuat juga inflasi,” ujar Abdul Haris.

Ia menjelaskan, tanaman hortikultura seperti cabai membutuhkan ketersediaan air yang cukup. Karena itu, petani masih dapat mengantisipasi kekeringan dengan membuat sumur di sekitar lahan pertanian.

Namun, apabila kondisi kering akibat El Nino berlangsung dalam waktu lama, dampaknya terhadap sektor pertanian akan semakin besar.

“Kalau ke depannya itu sudah sangat kering. Kalau El Nino masih lama, ini masih lama karena itu faktor alam yang tidak bisa kita hindari,” katanya.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, DTPHP Mimika melakukan sejumlah langkah, termasuk melalui penyuluh pertanian yang secara rutin memberikan pendampingan dan arahan kepada petani di lapangan.

Selain itu, pemerintah juga akan membangun beberapa jaringan irigasi air tanah dalam (JIAT) melalui program pemerintah pusat.

“Akan dibangun juga beberapa sumur dari kegiatan pusat, namanya JIAT, Jaringan Irigasi Air Tanah. Itu ada beberapa unit yang akan dibangun untuk mengatasi daerah-daerah yang tingkat kekeringannya tinggi,” jelasnya.

Pembangunan tersebut direncanakan dilakukan tahun ini dan dalam waktu dekat melalui bidang sarana dan prasarana DTPHP.

Abdul Haris menyebut pembangunan jaringan irigasi akan ditempatkan di sentra-sentra pertanian sesuai kebutuhan, termasuk kawasan persawahan dan wilayah yang menjadi sentra pengembangan cabai.

Untuk tahap awal, terdapat sekitar 12 titik yang direncanakan mendapatkan pembangunan jaringan tersebut.

“Kalau saya tidak salah 12 titik, di sentra-sentra pertanian, di sawah juga kita kasih, kemudian juga di daerah-daerah khususnya yang menjadi penyumbang inflasi ini dari pengembangan cabai,” ungkapnya.

Ia menegaskan, fasilitas tersebut tidak dibangun untuk kepentingan pribadi, melainkan ditempatkan pada kelompok-kelompok tani yang telah terdata dan memenuhi persyaratan.

“Semua dibangun di kelompok, tidak ada di pribadi-pribadi. Harus lewat kelompok kami,” tegas Abdul Haris.

Menurutnya, pengusulan kelompok tani dilakukan melalui mekanisme yang telah ditetapkan pemerintah. Data kelompok terlebih dahulu diverifikasi di tingkat provinsi sebelum diteruskan ke pemerintah pusat.

“Data kami tidak langsung ke pusat, kami lewat provinsi dulu. Ada aplikasi namanya e-Mantel. Jadi sampai di provinsi, diverifikasi baru diteruskan,” jelasnya.

Ia mengatakan pemerintah tidak bisa sembarangan membentuk atau mengusulkan kelompok tani karena terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Hal tersebut dilakukan agar bantuan benar-benar diterima kelompok yang sesuai dengan ketentuan.

Abdul Haris menambahkan, dampak El Nino tidak hanya berpengaruh terhadap produksi pertanian, tetapi juga berpotensi meningkatkan inflasi.

Ketika produksi menurun, jumlah barang yang tersedia di pasar ikut berkurang. Di sisi lain, biaya produksi petani juga dapat meningkat akibat kebutuhan air dan biaya pendukung lainnya.

“Penurunan produksi dan terjadi inflasi. Karena dengan sendirinya barang akan berkurang di pasar, biaya produksi tinggi,” katanya.

Ia mencontohkan harga cabai yang saat ini berada pada kisaran Rp125 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.

Menurutnya, kondisi harga juga dipengaruhi distribusi barang melalui jalur laut. Ketika kapal penumpang atau kapal pengangkut barang tiba, sejumlah pedagang dapat membeli komoditas dalam jumlah besar untuk kemudian dibawa ke wilayah lain yang menawarkan harga lebih tinggi.

“Kalau kapal masuk, semua barang diborong, karena harganya bisa dua kali lipat. Nah, itu yang membuat inflasi juga, barangnya dibawa ke daerah lain,” ungkapnya.

Untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus membantu mengurangi tekanan harga, Abdul Haris mengajak masyarakat memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar rumah untuk menanam kebutuhan pangan, terutama sayuran.

“Untuk itu kita bisa tanam juga di rumah-rumah untuk menjaga ketahanan pangan keluarga,” pungkasnya.