Timika, Torangbisa.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mimika terus mendorong sekolah-sekolah di daerah itu untuk menerapkan program sekolah berwawasan lingkungan melalui program Adiwiyata.
Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup (PPKLH) DLH Mimika, Maria Leisubun, mengatakan pihaknya saat ini telah mengundang sebanyak 70 sekolah yang terdiri dari jenjang SD, SMP hingga SMA untuk mengikuti program tersebut.
Hal itu disampaikan Maria saat diwawancarai awak media di Hotel Horizon Diana Mimika, Sabtu (22/8/2026).
“Kita undang peserta 70 sekolah SD, SMP, dan SMA,” kata Maria.
Menurutnya, jumlah sekolah yang mengikuti program Adiwiyata tersebut masih berpotensi bertambah pada tahun-tahun berikutnya. Namun, pelaksanaan program saat ini masih disesuaikan dengan kemampuan anggaran pemerintah daerah.
Ia menegaskan, informasi dan pembinaan mengenai sekolah berwawasan lingkungan tidak hanya diberikan kepada sekolah yang diundang dalam kegiatan saat ini.
“Mungkin setelah ini ada target lagi untuk ada penambahan sekolah di tahun-tahun berikutnya. Pasti, karena informasi ini tidak terputus hanya untuk sekolah-sekolah yang kami undang saja. Ini karena kita dibatasi oleh anggaran,” jelasnya.
Maria berharap ke depan seluruh sekolah di Kabupaten Mimika dapat memiliki wawasan lingkungan dan memahami konsep Adiwiyata.
Menurutnya, terdapat lima aspek yang harus dipenuhi dalam penerapan Adiwiyata dan seluruh warga sekolah memiliki peran di dalamnya, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, tenaga administrasi hingga petugas keamanan.
“Untuk ke depan kami mengusahakan semua sekolah wajib berwawasan lingkungan dan tahu yang namanya Adiwiyata,” ujarnya.
Maria menjelaskan, pemerintah daerah tidak hanya memberikan pembinaan, tetapi juga melakukan intervensi melalui penyediaan sarana pendukung lingkungan di sekolah.
Menurutnya, sekolah dapat mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk mendapatkan fasilitas seperti tempat sampah terpilah, sarana pengelolaan sampah 3R, kios sampah, bank sampah hingga biopori.
“Jadi pemerintah juga bermitra dengan sekolah. Mereka bermohon ke kami untuk tempat sampah, misalnya 3R atau dibangunkan yang namanya kios sampah atau bank sampah,” jelas Maria.
Ia menyebut, sejumlah sekolah yang telah mengikuti program Adiwiyata, termasuk yang telah mencapai tingkat nasional, sudah memiliki bank sampah maupun kios sampah.
Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan berupa pembuatan biopori serta tempat sampah terpilah sebagai bagian dari upaya membangun budaya pengelolaan lingkungan di lingkungan sekolah.
“Biopori, kios sampah, tempat sampah terpilah, terus yang penting itu kita memberikan pendampingan terus rutin kepada mereka,” katanya.
Maria menegaskan, sekolah yang menjalankan program Adiwiyata tidak berjalan sendiri. Selain dukungan pemerintah, sekolah juga dapat membangun kemitraan dengan dunia usaha yang berada di sekitar lingkungan mereka.
Ia mendorong pihak sekolah untuk aktif menjalin komunikasi dan mengajukan kerja sama dengan para pelaku usaha.
“Tidak hanya pemerintah, masih ada mitra-mitra ini. Pelaku-pelaku usaha itu mitranya sekolah. Mitra pemerintah juga mitranya mereka,” ungkapnya.
Menurut Maria, dunia usaha juga memiliki tanggung jawab sosial untuk mendukung kegiatan masyarakat, termasuk lingkungan pendidikan. Karena itu, sekolah dapat mengajukan permohonan bantuan sesuai kebutuhan program lingkungan yang dijalankan.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, sekolah dan dunia usaha dapat memperluas penerapan sekolah berwawasan lingkungan di Kabupaten Mimika.
Dengan dukungan tersebut, program Adiwiyata diharapkan tidak hanya menghasilkan sekolah yang memiliki sarana lingkungan yang baik, tetapi juga membangun kesadaran seluruh warga sekolah untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

















