Timika, Torangbisa.com – Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Kabupaten Mimika menyelenggarakan pelatihan manajemen sanggar kebudayaan dan seni Suku Amungme dan Kamoro yang diikuti oleh 120 pengurus sanggar.
Pelatihan yang dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kabupaten Mimika, Mimika, Drs. Ananias Faot, Selasa (21/7/2026) di Aula Keuskupan Loresa SP3 ini masih akan berlangsung selama tiga hari ke depan.
Disbudparekraf menghadirkan nara sumber dari Balai Pelestarian Budaya Provinsi Papua, Kantor Kanwil Hukum Provinsi Papua dan Dinas Penanaman Modal Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Mimika.
Ananias mengatakan, pelatihan ini sejalan dengan tema “Mengelola Karya, Merawat Budaya”.
“Tema yang kita usung ini bukan sekadar rangkaian kata-kata indah, melainkan memuat filosofi yang sangat mendalam,” ujarnya.
Tema ini merupakan panggilan hati bagi semua, khususnya para penggiat seni dan budaya, untuk senantiasa menjaga, merawat, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi penerus.
“Kita mengakui bahwa para pegiat seni dan budaya selama ini telah menjadi teladan dalam menjaga warisan leluhur yang sangat berharga bagi Kabupaten Mimika,” jelasnya.
Karya seni kata dia, lahir dari buah kreativitas, ketekunan, dedikasi tinggi, serta kecintaan yang mendalam terhadap akar budaya sendiri. Namun demikian, tanpa kita sadari karya yang seindah apa pun tidak akan bertahan lama jika tidak dikelola secara profesional.
Demikian pula budaya, tidak akan lestari sepanjang masa jika tidak dirawat secara sadar, dilestarikan secara berkelanjutan, dan diserahkan sebagai amanah kepada generasi berikutnya.
Oleh karena itu, kegiatan ini hadir untuk menjembatani keunggulan nilai tradisional dengan tata kelola manajemen yang baik, agar seni budaya kita tetap terdepan dan berdaya saing.
Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari visi besar Penguatan Ekonomi, Ekosistem, Kebudayaan, dan Seni di Kabupaten Mimika.
Melalui peningkatan kapasitas manajemen dan tata kelola ini, tidak hanya membangun kemampuan organisasi, tetapi juga secara langsung memperkuat fondasi ekosistem seni budaya daerah mendorong kemandirian ekonomi para pelaku seni dan budaya, membangun lingkungan yang sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan dan menjadikan seni budaya sebagai sektor yang hidup, produktif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Mimika.
Sekretaris Disbudparekraf menyebut jika potensi budaya daerah memiliki keunggulan dan prestasi yang patut dibanggakan, namun saat ini masih menghadapi berbagai kendala mendasar dalam manajemen tata kelola, administrasi, pemasaran, pengelolaan keuangan, serta kualitas sumber daya manusia.
Kegiatan ini kata Daniel, diselenggarakan secara khusus untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pengelolaan, sehingga tata kelola budaya dapat berjalan lebih profesional, berkelanjutan, tanpa meninggalkan atau mengurangi nilai-nilai tradisi luhur yang ada.
Kemudian, memperkuat manajemen organisasi pengelola budaya agar lebih kokoh dan profesional.
Terakhir, untuk memberikan keterampilan praktis secara langsung bagi peserta, mencakup bidang ddministrasi organisasi pemasaran dan promosi budaya, pengelolaan sumber daya manusia dan pengelolaan keuangan yang transparan dan tertib.















