TIMIKA, (torangbisa.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terus memperkuat tata kelola perencanaan kebutuhan obat agar lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran melalui kegiatan Pembinaan Pelaporan Rencana Kebutuhan Obat (RKO) dan Penguatan Peran Farmasi Klinik dalam Pengendalian Penyakit Hipertensi (HT) dan Diabetes Melitus (DM) yang digelar di Hotel Horison Diana, Timika, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh para penanggung jawab kefarmasian dari seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Mimika sebagai upaya meningkatkan kualitas penyusunan Rencana Kebutuhan Obat (RKO) yang berbasis data pelayanan kesehatan dan kondisi riil di lapangan.
Kepala Bidang Kesehatan Lanjutan, Kefarmasian, dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Farida, menegaskan bahwa obat merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan karena mendukung upaya promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif.
“Obat sangat krusial dalam pelayanan kesehatan karena ikut menentukan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Penggunaannya tidak hanya untuk pengobatan, tetapi juga mendukung upaya pencegahan dan pemulihan kesehatan,” ujar Farida saat memberikan materi.
Ia menjelaskan, sistem perencanaan kebutuhan obat saat ini tidak lagi dilakukan berdasarkan perkiraan atau kebiasaan, melainkan harus diawali dengan identifikasi kebutuhan yang didasarkan pada data pelayanan kesehatan di masing-masing fasilitas kesehatan.
“Perencanaan obat sekarang harus benar-benar berbasis identifikasi kebutuhan. Karena itu kami mengundang para penanggung jawab farmasi agar bersama-sama menganalisis data pelayanan serta penggunaan obat di setiap puskesmas,” katanya.
Menurut Farida, karakteristik wilayah Kabupaten Mimika yang terdiri dari kawasan perkotaan, pesisir, hingga pegunungan menyebabkan pola penyakit masyarakat berbeda-beda. Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap jenis dan jumlah obat yang dibutuhkan di setiap puskesmas.
“Kasus penyakit di puskesmas wilayah pesisir tentu berbeda dengan wilayah perkotaan. Lingkungan dan pola hidup masyarakat juga berbeda, sehingga kebutuhan obatnya tidak bisa disamaratakan. Karena itu seluruh perencanaan harus berbasis data penyakit dan penggunaan obat di masing-masing wilayah,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengadaan obat yang tidak disusun berdasarkan data berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara kebutuhan dan ketersediaan obat. Oleh sebab itu, seluruh puskesmas didorong memanfaatkan data pelayanan sebagai dasar penyusunan RKO agar pengadaan obat menjadi lebih efektif dan efisien.
Selain membahas penyusunan RKO, kegiatan tersebut juga memperkuat peran farmasi klinik dalam mendukung pengendalian penyakit tidak menular, khususnya hipertensi dan diabetes melitus yang saat ini masuk dalam 10 penyakit terbanyak di Kabupaten Mimika.
Farida menegaskan, Pemerintah Kabupaten Mimika berkomitmen memastikan ketersediaan obat untuk penanganan hipertensi dan diabetes tetap aman di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
“Kami ingin memastikan obat-obatan untuk hipertensi dan diabetes selalu tersedia sehingga pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika berharap para apoteker dan tenaga teknis kefarmasian mampu menyusun perencanaan kebutuhan obat secara lebih akurat berdasarkan analisis data, sehingga stok obat di seluruh fasilitas kesehatan tetap terjaga, pengadaan menjadi lebih tepat sasaran, dan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat Kabupaten Mimika semakin meningkat.















