Scroll untuk baca artikel
Dinkes Mimika

Kasus Malaria di Mimika Turun, Dinkes Genjot Pemeriksaan hingga Wilayah Pegunungan

×

Kasus Malaria di Mimika Turun, Dinkes Genjot Pemeriksaan hingga Wilayah Pegunungan

Sebarkan artikel ini
Data anka kasus malaria di Mimika (Foto;Ilustrasi/torangbisa.com)

TIMIKA, Torangbisa.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika melaporkan tren kasus malaria di wilayahnya mulai menunjukkan penurunan sepanjang tahun 2026. Hingga akhir Mei, tercatat sebanyak 61.735 warga terkonfirmasi positif malaria dari total 450.193 pemeriksaan yang telah dilakukan.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Mimika, Kamaludin, mengatakan capaian tersebut lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Menurutnya, angka kepositifan malaria saat ini berada di kisaran 13,7 persen, atau turun sekitar satu persen dibandingkan tahun lalu.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Data Dinkes menunjukkan sepanjang tahun 2025 terdapat 190.597 kasus malaria positif dari 1.299.815 pemeriksaan yang dilakukan di Kabupaten Mimika.

“Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah kasus yang ditemukan saat ini mengalami penurunan,” kata Kamaludin.

Berdasarkan hasil surveilans, kasus malaria yang ditemukan pada tahun ini masih didominasi oleh infeksi Plasmodium vivax atau malaria tersiana. Jumlahnya sedikit lebih tinggi dibandingkan kasus yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum.

Kelompok laki-laki masih menjadi penderita terbanyak dengan jumlah mencapai 36.035 kasus, sedangkan perempuan sebanyak 25.003 kasus. Sementara berdasarkan kelompok umur, mayoritas penderita berada pada rentang usia produktif, yakni 15 hingga 64 tahun.

Untuk menekan angka penularan, Dinas Kesehatan menargetkan lebih dari dua juta pemeriksaan malaria selama tahun 2026. Program tersebut dilakukan melalui penguatan layanan deteksi dini di fasilitas kesehatan, baik di wilayah perkotaan, pesisir maupun pegunungan.

“Kami terus memperluas jangkauan pemeriksaan agar kasus bisa ditemukan lebih cepat dan segera diobati,” ujarnya.

Selain memperkuat layanan di puskesmas, petugas kesehatan yang bertugas di Puskesmas Pembantu (Pustu) juga dibekali kemampuan melakukan pemeriksaan malaria secara mandiri serta memberikan pengobatan bagi masyarakat di daerah terpencil.

Kamaludin menegaskan, keberhasilan eliminasi malaria tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat. Warga diminta bersedia menjalani pemeriksaan ketika petugas kesehatan melakukan skrining serta mematuhi pengobatan hingga selesai apabila dinyatakan positif malaria.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana seperti tidur menggunakan kelambu, menghindari gigitan nyamuk pada malam hari, menggunakan lotion anti nyamuk, serta menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Tren kasus memang mulai menurun, tetapi upaya eliminasi malaria hanya bisa tercapai jika masyarakat dan tenaga kesehatan bergerak bersama,” tuturnya.

Terkait penanganan malaria pada ibu hamil, Kamaludin mengingatkan bahwa penggunaan obat primaquine tidak dianjurkan selama masa kehamilan karena berpotensi membahayakan janin. Sebagai alternatif, ibu hamil diberikan terapi pencegahan hingga masa persalinan, sementara pengobatan primaquine baru dapat dilakukan setelah bayi lahir.