Scroll untuk baca artikel
Mimika

Viral Nakes Jalan Kaki 12 Jam, Kadistrik Tembagapura: Kalau Koordinasi, Kami Bisa Jemput

×

Viral Nakes Jalan Kaki 12 Jam, Kadistrik Tembagapura: Kalau Koordinasi, Kami Bisa Jemput

Sebarkan artikel ini
Kepala Distrik Tembagapura, Dev Tatiratu (Foto: Istimewa)

Timika, Torangbisa.com – Kepala Distrik Tembagapura, Dev Richard Tatiratu, akhirnya angkat bicara terkait viralnya unggahan seorang tenaga kesehatan (nakes) yang mengaku harus berjalan kaki selama 12 jam dari Kampung Aroanop menuju Kampung Banti untuk mengobati rekannya karena stok obat malaria di Pustu Aroanop habis.

Menurut Dev, persoalan yang terjadi seharusnya dapat diantisipasi apabila terdapat komunikasi dan koordinasi yang baik antara petugas kesehatan dengan pemerintah distrik sebelum melakukan perjalanan.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

“Saya juga sebagai kepala distrik tidak dikonfirmasi terkait perjalanan mereka. Kalau mereka berkoordinasi, kita bisa mengupayakan penjemputan dari pemerintah atau Freeport,” kata Dev saat dikonfirmasi, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan, rute yang dilalui dari Aroanop menuju Banti bukanlah jalur biasa. Wilayah tersebut masuk dalam kategori zona merah yang memiliki tingkat risiko keamanan tinggi bagi masyarakat maupun petugas yang melintas.

Karena itu, pemerintah distrik perlu mengetahui setiap pergerakan petugas di wilayah pedalaman agar dapat memberikan dukungan maupun pengamanan jika diperlukan.

“Jalur yang dilewati adalah jalur zona merah. Kalau terjadi apa-apa di perjalanan siapa yang disalahkan?” ujarnya.

Dev menegaskan, Pemerintah Distrik Tembagapura selama ini berupaya hadir dan membantu kebutuhan para tenaga kesehatan yang bertugas di daerah terpencil. Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi petugas di lapangan selama ini selalu direspons apabila disampaikan kepada pemerintah.

Ia mencontohkan, tenaga kesehatan yang bertugas di Kampung Banti pernah mengalami kekurangan bahan makanan.

Setelah menerima laporan tersebut, pemerintah distrik langsung mengambil langkah cepat untuk membantu kebutuhan mereka.

“Nakes yang di Banti saja pernah kehabisan bama. Begitu kami dari distrik dapat laporan, langsung kami bawa nakes-nakes itu belanja bama di Shopping Tembagapura. Ini sebagian bentuk kecil pemerintah selalu hadir,” jelasnya.

Atas kejadian yang kini menjadi sorotan publik tersebut, Dev berharap seluruh pihak dapat memperkuat koordinasi dan komunikasi, terutama dalam menghadapi berbagai keterbatasan layanan di wilayah pedalaman yang memiliki tantangan geografis dan keamanan cukup tinggi.

Menurutnya, kerja sama yang baik antara petugas lapangan dan pemerintah akan mempermudah penyelesaian berbagai persoalan yang muncul di lapangan.

“Yang paling terpenting itu adalah koordinasi, biar jangan ada dusta di antara kita,” tegasnya.

Sebelumnya, unggahan seorang tenaga kesehatan yang mengaku berjalan kaki selama sekitar 12 jam dari Aroanop menuju Banti viral di media sosial.

Dalam unggahan tersebut disebutkan perjalanan dilakukan untuk mendapatkan pengobatan bagi seorang rekan yang terserang malaria karena stok obat di fasilitas kesehatan setempat telah habis.

Unggahan itu kemudian memicu berbagai reaksi masyarakat terkait kondisi pelayanan kesehatan dan distribusi logistik medis di wilayah pedalaman Kabupaten Mimika.

Menanggapi polemik tersebut, Bupati Mimika Johannes Rettob juga mengingatkan agar setiap persoalan yang dihadapi petugas di lapangan terlebih dahulu disampaikan kepada pemerintah daerah sehingga solusi dapat segera dicarikan tanpa harus menjadi polemik di media sosial.

“Kalau ada kendala, sampaikan kepada pemerintah. Kita pasti berupaya membantu mencarikan jalan keluarnya,” kata Johannes.

Keterangan Foto: Dev Richard Tatiratu, Kepala Distrik Tembagapura, menegaskan pentingnya koordinasi antara tenaga kesehatan dan pemerintah distrik menyusul viralnya unggahan nakes yang mengaku berjalan kaki selama 12 jam dari Aroanop ke Banti.

Mimika

Timika, Torangbisa.com – Bupati Mimika, Johannes Rettob, menegaskan bahwa keberadaan bangunan tanpa izin serta parkir liar di sejumlah titik di Kota Timika menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah daerah.

Mimika

Timika, Torangbisa.com – Bupati Mimika, Johannes Rettob, mengatakan bahwa opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang diterima Pemerintah Kabupaten Mimika untuk ke-11 kalinya merupakan penilaian atas kualitas penyajian laporan keuangan daerah, bukan berarti seluruh pengelolaan keuangan bebas dari temuan.