TIMIKA, (Torangbisa.com) — Maraknya kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah di Mimika kembali menjadi perhatian serius. Fenomena ini dinilai bukan lagi persoalan sepele, melainkan ancaman nyata terhadap tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.
Gerakan Peduli Sesama (GPS) secara tegas mendesak dinas terkait untuk tidak tinggal diam. Mereka meminta adanya sanksi tegas terhadap pihak sekolah yang dinilai lalai atau bahkan terkesan membiarkan praktik bullying terjadi di lingkungan pendidikan.
Ketua Komunitas Gerakan Peduli Sesama, Sandre Lia, menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak, bukan tempat yang justru memunculkan rasa takut dan tekanan.
“Bullying tidak boleh dianggap sebagai kenakalan biasa. Ini adalah bentuk kekerasan yang dampaknya bisa menghancurkan masa depan anak,” tegas Lia kepada Torangbisa.com, Minggu, (26/4/2026).
Ia menilai, lemahnya pengawasan serta minimnya penanganan serius dari pihak sekolah menjadi salah satu penyebab terus berulangnya kasus perundungan.
Dalam perkembangan terbaru, diketahui bahwa tindak kekerasan tersebut terjadi di salah satu sekolah pada Kamis sore, (22/4/2026), dan korban sempat menjalani perawatan selama satu malam di RSUD Mimika akibat dampak yang dialaminya.
Lebih jauh, Lia mengungkapkan bahwa penanganan tidak hanya difokuskan pada korban, tetapi juga terhadap pelaku. Kedua anak tersebut direncanakan untuk mendapatkan pendampingan dan terapi sebagai bagian dari proses pemulihan.
“Yang perlu kita pahami, ini bukan hanya soal menghukum. Baik korban maupun pelaku sama-sama butuh pendampingan. Terapi penting agar tidak ada dampak lanjutan di masa depan,” ujarnya.
Ia menegaskan, dampak bullying terjadi secara langsung dan nyata, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik, korban berisiko mengalami cedera seperti memar, luka, hingga gangguan kesehatan akibat tekanan, seperti sakit kepala, sulit tidur, dan menurunnya nafsu makan.
Namun yang paling mengkhawatirkan adalah dampak psikologis. Anak korban bullying kerap mengalami ketakutan, kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
“Anak bisa terlihat diam dan seolah baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang menanggung tekanan mental yang berat,” ungkapnya.
Kondisi ini juga berdampak pada dunia pendidikan anak. Korban cenderung mengalami penurunan prestasi belajar karena sulit berkonsentrasi, merasa tidak aman di sekolah, bahkan kehilangan semangat untuk bersekolah.
Jika tidak ditangani secara serius, dampak tersebut dapat berkembang menjadi trauma jangka panjang yang memengaruhi kepribadian dan masa depan anak.
“Kalau ada sekolah yang terbukti abai, harus ada efek jera. Jangan sampai ada pembiaran yang terus berulang,” tegas Lia.
Untuk itu, GPS mendorong dinas pendidikan dan instansi terkait agar segera turun tangan dengan langkah konkret, mulai dari evaluasi terhadap sekolah, pemberian sanksi administratif, hingga pembinaan serius terhadap sistem pendidikan karakter.
Selain penindakan, GPS juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk orang tua dan tenaga pendidik, untuk bersama-sama menanamkan nilai empati, kepedulian, serta akhlak sejak dini kepada anak-anak.












