TIMIKA, (Torangbisa.com) – Puluhan pekerja armada kebersihan di Kabupaten Mimika sempat melakukan aksi mogok kerja sebagai bentuk protes terhadap kebijakan internal di Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Aksi tersebut dipicu oleh dugaan intimidasi dan sikap arogan yang dilakukan oleh seorang oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di instansi tersebut, Senin (9/3/2026).
Perwakilan pekerja sekaligus pengawas lapangan, Wilson Baria, mengungkapkan bahwa keresahan para pekerja mulai muncul sejak kehadiran oknum ASN tersebut. Ia menilai oknum tersebut sering menggunakan jabatannya untuk menekan para pekerja di lapangan.
“Oknum ASN ini selalu arogan, menggunakan atribut ASN untuk menakut-nakuti kami dengan intimidasi. Kemarin ada pengumpulan KTP tanpa koordinasi yang jelas dengan pihak dinas. Katanya itu perintah dinas, padahal tujuannya untuk mengganti orang-orang yang sudah bekerja di sini,” ujar salah satu koordinator aksi saat diwawancarai media ini.
Selain dugaan intimidasi, para pekerja juga menyoroti adanya ketidakadilan dalam proses rekrutmen sopir armada kebersihan. Mereka menduga ada upaya memasukkan anggota keluarga oknum ASN tersebut untuk menggantikan sopir lama yang sedang mengalami kendala administratif.
“Ada sopir kami yang SIM-nya sedang ditahan dan masih dalam proses pengurusan. Sementara itu, kami tempatkan dia di bagian lain agar tetap bisa bekerja. Tapi oknum ASN ini malah memasukkan anaknya untuk jadi sopir. Ini pekerjaan lapangan yang tidak bisa diperlakukan semena-mena,” tegasnya.
Para pekerja juga mengeluhkan persoalan teknis terkait pengelolaan absensi oleh pihak administrasi. Mereka menilai terdapat kesalahan data yang justru dibebankan kepada pengawas lapangan sehingga memicu konflik internal di antara pekerja.
Menurut para pekerja, selama ini mereka telah bekerja maksimal menjaga kebersihan kota sekaligus menjaga nama baik pimpinan dinas. Namun mereka merasa pengorbanan tersebut tidak dihargai, bahkan diwarnai ancaman pemecatan bagi pekerja yang berani menyuarakan hak-haknya.
“Kami hanya ingin bekerja dengan rasa aman. Intimidasi seperti ini jelas melanggar hukum. Kami bekerja demi marwah dinas, tapi kenapa kami yang terus ditekan,” tambahnya.
Menanggapi aksi tersebut, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mimika, Michael Alik Lembang, mengaku terkejut saat mengetahui adanya mogok kerja yang beredar di grup internal para pekerja. Ia langsung berkoordinasi dengan Kepala Dinas yang saat ini sedang sakit untuk segera turun ke lapangan melakukan mediasi.
“Saya kaget melihat di grup ada informasi mogok kerja. Saya langsung telepon Pak Kadis, tapi beliau sedang sakit, jadi saya bersama Kabid datang ke sini untuk melakukan mediasi agar para pekerja kembali bekerja,” ujar Michael saat ditemui di lokasi aksi.
Terkait keluhan pekerja mengenai jaminan kesehatan BPJS, Michael menjelaskan bahwa kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan untuk karyawan tetap sebenarnya sudah diproses sejak lama. Namun untuk tenaga cadangan, masih perlu dikaji sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kalau BPJS untuk karyawan tetap itu sudah kami urus dari dulu. Tapi untuk tenaga cadangan memang belum, karena ada aturan yang harus kami pelajari apakah memungkinkan untuk diurus atau tidak,” jelasnya.
Sementara itu, terkait dugaan intimidasi oleh oknum ASN, Michael menegaskan bahwa setiap persoalan di lingkungan dinas memiliki mekanisme penyelesaian melalui jenjang internal, mulai dari staf, kepala seksi, kepala bidang hingga kepala dinas.
“Saya harap para pekerja bisa kembali bekerja dulu. Semua persoalan pasti ada penyelesaiannya, jangan langsung mogok. Kalau satu hari saja sampah tidak diangkut, kota ini langsung terlihat tidak bersih. Ini juga menyangkut nama baik pemerintah daerah,” tegasnya.
Pihak DLH Kabupaten Mimika berjanji akan menjadwalkan pertemuan lanjutan untuk membahas tuntutan para pekerja bersama Kepala Dinas setelah kondisi kesehatannya membaik.
Hingga berita ini diterbitkan, para petugas kebersihan telah kembali menjalankan aktivitas pengangkutan sampah di sejumlah sudut Kota Timika sehingga pelayanan kebersihan dapat kembali berjalan normal.

















