Mimika

Manager Unit Perlindungan dan Partisipasi Anak: Anak Butuh Ruang Aman untuk Bercerita

×

Manager Unit Perlindungan dan Partisipasi Anak: Anak Butuh Ruang Aman untuk Bercerita

Sebarkan artikel ini
Manager Unit Perlindungan dan Partisipasi Anak, Satrio Rahargo. Saat diwawancarai awak media (Foto: Yani/ Torangbisa.com).

Timika, Torangbisa.com – Manager Unit Perlindungan dan Partisipasi Anak, Satrio Rahargo, menekankan pentingnya pola asuh yang adaptif di tengah perkembangan zaman, khususnya dalam menghadapi persoalan tekanan mental pada anak.

menanggapi pertanyaan mengenai pola asuh yang tepat bagi anak-anak saat ini.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Menurut Satrio, ketika berbicara tentang anak yang mengalami tekanan mental hingga mengambil tindakan ekstrem, persoalan tersebut tidak bisa dilihat hanya dari sisi anak semata.

“Kita tidak bisa hanya melihat dari sisi anaknya saja. Harus dilihat juga bagaimana lingkungannya, bagaimana pendampingan orang tua, bagaimana konteks keluarga dan adat masyarakatnya, serta bagaimana dukungan dari pemerintah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan fisik seperti makan, sandang, dan papan, tetapi juga kebutuhan psikologis dan emosional. Anak perlu memiliki ruang aman untuk menyampaikan kegelisahan, kecemasan, maupun tekanan yang dirasakannya.

“Ketika anak berada dalam situasi yang menekan, dia butuh seseorang yang bisa menjadi tempat bercerita. Itu bisa orang tua, guru, tokoh agama, atau pendamping di lingkungan masyarakatnya,” jelasnya.

Menurutnya, jika anak memiliki akses untuk berbicara kepada orang yang dipercaya, maka ketika muncul pikiran negatif, anak masih memiliki kesempatan untuk berkonsultasi dan mengurungkan niatnya.

Satrio juga menyoroti pentingnya peran sekolah dalam menyediakan ruang konseling, seperti guru Bimbingan Konseling (BK), wali kelas, maupun tenaga pendidik yang memiliki kapasitas dasar dalam pendampingan psikologis.

“Kita tidak bisa hanya bergantung pada layanan formal seperti psikolog di tingkat kabupaten. Akses itu harus lebih dekat dengan anak, dimulai dari kesiapan orang tua, lingkungan masyarakat, hingga sekolah,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu meningkatkan kapasitas guru dan tenaga pendidik agar mampu menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak yang menghadapi tekanan mental.

Terkait kasus yang menimpa anak usia 10 tahun, Satrio menilai faktor utama yang perlu diperhatikan adalah keterbatasan ruang komunikasi.

“Anak itu sangat bergantung pada orang-orang di sekitarnya. Jika tidak ada ruang untuk berbicara, tidak ada yang mendengar, itu bisa menimbulkan isolasi mental. Padahal langkah pertama ketika seseorang mengalami tekanan adalah membuka komunikasi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa orang tua sering kali terlalu sibuk atau kelelahan sehingga tanpa sadar tidak menyediakan ruang dialog bagi anak. Bahkan dalam beberapa kondisi, anak tidak memiliki figur yang bisa dijadikan tempat berbagi cerita.

“Bagian pertama yang harus kita lakukan adalah membuka komunikasi. Orang tua harus siap mendengar, bukan langsung menghakimi atau memarahi,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memastikan anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan akses jaminan sosial seperti pendidikan dan layanan kesehatan, agar tekanan akibat faktor ekonomi dapat diminimalisir.

Satrio berharap ke depan seluruh elemen masyarakat—orang tua, sekolah, tokoh adat, tokoh agama, hingga pemerintah desa—lebih peka terhadap tanda-tanda tekanan pada anak dan proaktif menyapa serta membangun komunikasi.

“Intinya, anak butuh ruang untuk didengar. Kalau ruang itu tersedia, maka kita bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.

Mimika

Timika, Torangbisa.com – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Mimika, Johana Arwam, mengatakan kolaborasi lintas sektor sangat penting dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Mimika

Mimika

Timika, Torangbisa.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Mimika menggelar kegiatan Asesmen menggunakan alat penilaian tata kelola dan fungsi TPPS dalam Percepatan Penurunan Stunting (PPPS) yang berlangsung di Hotel Horison Diana, Kamis (19/2/2026).