Timika, Torangbisa.com — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mimika memulai proses penyusunan dokumen perencanaan Jembatan Aparuka melalui kegiatan Seminar Pendahuluan dan Interim yang digelar di Hotel Swiss-Belinn Timika, Kamis (21/11/2025).n
Kepala Dinas PUPR Mimika, Inosensius Yoga, menjelaskan bahwa rencana pembangunan jembatan ini merupakan aspirasi prioritas masyarakat yang disampaikan melalui Musrembang.
Kondisi geografis yang dipisahkan oleh sungai menyebabkan warga kesulitan menyeberang, terutama saat musim hujan dan banjir.
“Kalau musim banjir mereka kewalahan untuk akses ke tanah besar sebelah. Karena ini hasil Musrembang, kami tindak lanjuti dengan membuat dokumen perencanaan dulu,” ujarnya.
Pada seminar awal ini, konsultan perencana mengumpulkan data dan masukan dari berbagai pihak, mulai dari dinas teknis, pemerintah distrik, hingga pemangku kepentingan lain. Semua masukan tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan desain jembatan yang paling tepat guna.
Salah satu usulan datang dari pihak distrik, yang menginginkan jembatan tidak hanya untuk pejalan kaki dan sepeda motor, tetapi juga bisa dilalui mobil. Namun, opsi ini masih perlu dikaji lebih dalam, khususnya terkait kesiapan akses jalan dan kapasitas anggaran.
“Saya sarankan dibuat dua opsi: jembatan untuk mobil dan jembatan untuk motor atau pejalan kaki. Dari situ kita bisa lihat besaran biaya dan manfaatnya,” jelas Yoga.
Berdasarkan rancangan awal, jembatan untuk pejalan kaki dan motor diperkirakan memiliki lebar sekitar 1,2 meter, sementara opsi jembatan kendaraan roda empat memerlukan lebar sekitar 7 meter. Adapun bentang jembatan diperkirakan mencapai 220 meter.
Yoga menegaskan bahwa pembangunan harus mempertimbangkan urgensi serta efektivitas. Ia mengingatkan, membangun jembatan untuk mobil tanpa adanya akses jalan yang memadai akan menjadi pembangunan yang tidak tepat sasaran.
Tahapan berikutnya adalah survei lapangan, termasuk sondir tanah dan pemeriksaan teknis lainnya. Hasilnya akan dipaparkan dalam seminar akhir sebelum dokumen perencanaan disahkan.
Masyarakat Aparuka disebut sangat membutuhkan jembatan ini untuk menunjang aktivitas harian seperti berkebun, mengangkut hasil panen, hingga kebutuhan mendesak lainnya.
“Jika jembatan sudah ada, mereka tidak perlu menyeberang lagi. Cukup jalan kaki ke seberang untuk ke kebun atau aktivitas lainnya,” tambah Yoga.














