Timika, Torangbisa.com – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, mengajak seluruh umat Katolik di Keuskupan Timika untuk berperan aktif mendampingi dan membantu masyarakat Kamoro agar mereka dapat menjadi tuan rumah di atas tanahnya sendiri, bukan justru menjadi tamu di tanah adat mereka.
Ajakan tersebut disampaikan Uskup Bernardus sebagai bentuk keprihatinan atas keresahan yang selama ini dialami masyarakat Kamoro.
Ia menyoroti praktik-praktik tidak adil, di mana masyarakat Kamoro kerap ditipu, diberi sejumlah uang yang tidak sebanding, lalu tanah adat mereka diambil alih pihak lain.
Sebagai umat Katolik, kata Uskup, ada panggilan moral untuk memikirkan kehidupan dan masa depan masyarakat Kamoro.
Menurutnya, menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga untuk mengurangi keresahan tersebut, salah satunya dengan menasihati masyarakat Kamoro agar tidak dengan mudah melepaskan atau menjual tanah adat mereka.
Tanah yang kaya akan sumber daya alam seharusnya dikelola secara bijak demi kesejahteraan jangka panjang.
“Saya mengajak masyarakat Kamoro untuk tidak menjual tanah. Tanah adalah warisan leluhur untuk anak cucu. Tugas kita adalah membantu dengan memberdayakan mereka, agar tanah tidak diberikan kepada kelompok-kelompok ekonomi yang hanya mengejar keuntungan,” tegas Uskup Bernardus.
Ia menambahkan, membela masyarakat kecil dan lemah merupakan bagian dari misi Tuhan. Mereka yang lemah harus diangkat dan diberdayakan agar mampu bersaing dan hidup layak di tengah perkembangan Timika yang semakin pesat.
Uskup Bernardus juga mengungkapkan bahwa Keuskupan Timika telah mengundang para biarawan dan biarawati untuk berkarya di bidang pendidikan, khususnya bagi putra-putri Kamoro.
Keuskupan Timika juga telah menyiapkan paket beasiswa bagi anak-anak dari suku Amungme, Kamoro, serta lima suku lainnya, dengan porsi terbesar diberikan kepada dua suku tersebut.
“Kita melihat ada dana besar dari PTFI melalui YPMAK untuk pendidikan, namun belum sepenuhnya menyentuh anak-anak Kamoro secara optimal. Pengelolaannya belum fokus, bahkan sering kali hanya mengatasnamakan Kamoro, tetapi yang menikmati justru pihak lain. Tahun 2026, hal ini akan kami perbaiki, dan Keuskupan Timika akan mengambil alih pengelolaan beasiswa tersebut,” jelas Uskup Bernardus usai Misa Tahun Baru di Gereja Stasi Santo Agustinus Nawaripi, Kamis (1/1/2026).
Lebih lanjut, Uskup mengaitkan pesan tersebut dengan makna Natal, di mana Yesus lahir di kandang sebagai simbol kerendahan hati dan disaksikan para gembala, yang melambangkan kaum kecil, lemah, dan tak berdaya.
Umat Katolik diajak untuk meneladani sikap rendah hati tersebut dengan memberdayakan yang lemah, menolong orang kecil, dan memperhatikan mereka yang terpinggirkan. Dengan cara itulah, iman umat akan terus diperbarui oleh Tuhan.
Selain itu, bertepatan dengan perayaan Gereja semesta atas Pesta Santa Maria Bunda Allah, Uskup menegaskan peran sentral Bunda Maria dalam membentuk kehidupan Yesus sebagai Putra Allah yang hadir sebagai Raja yang rendah hati, membela yang lemah, memperhatikan orang kecil, serta bersedia hidup di tengah masyarakat.
















