Timika, Torangbisa.com – Pemerintah Kabupaten Mimika tidak tinggal diam dalam menangani konflik yang terjadi di wilayah Kwamki Narama yang telah mengakibatkan 11 nyawa melayang.
Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyampaikan bahwa sejak terjadi konflik sosial di Kwamki Narama, pemerintah daerah bersama pemerintah distrik dan aparat keamanan terus melakukan berbagai langkah penanganan hingga saat ini.
“Proses ini sudah kami lakukan dari awal. Kami tidak diam. Sampai hari ini kami terus bekerja. Bahkan terakhir, terpaksa kami menurunkan pasukan dengan kekuatan yang cukup besar, sekitar 400 personel yang saat ini berada di Kwamki Narama,” ujar Bupati Johannes Rettob.
Menurutnya, pengerahan personel tersebut bertujuan untuk menjaga keamanan dan memberikan rasa tenang bagi masyarakat yang tinggal di Kwamki Narama.
Selain pengamanan, pemerintah juga mulai melakukan operasi justisi berupa pemeriksaan identitas seperti KTP dan dokumen lainnya.
“Kami ingin masyarakat merasa aman dan tenang. Operasi ini kami lakukan secara berkelanjutan. Tujuannya satu, agar konflik ini tidak terus berulang,” tegasnya.
Bupati menjelaskan, konflik Kwamki Narama merupakan persoalan internal yang sangat sensitif. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui pengamanan, tetapi juga dialog dan proses perdamaian.
Ia mengungkapkan bahwa upaya perdamaian telah dilakukan sebanyak tiga kali.
“Kami sudah lakukan proses perdamaian ini sampai tiga kali. Saya berharap ini menjadi yang terakhir. Tidak boleh ada lagi konflik,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab penuh terhadap keamanan wilayah konflik serta keselamatan aparat yang ditugaskan.
Proses penyelesaian konflik, lanjutnya, harus mengikuti mekanisme pemerintahan dan aturan yang berlaku, termasuk dalam hal pembangunan dan penganggaran yang melibatkan DPRD.
“Semua yang dipikirkan masyarakat sebenarnya sudah kami pikirkan. Tinggal pelaksanaannya yang harus mengikuti aturan. Jangan semua diselesaikan dengan kekerasan, itu tidak baik,” pungkasnya.
Sementara itu, Yance Sani selaku penanggung jawab solidaritas masyarakat menyampaikan bahwa misi utama semua pihak adalah perdamaian di Kabupaten Mimika.
Ia mengapresiasi adanya pembicaraan damai yang kini melibatkan pihak-pihak terkait.
“Kami sangat bersyukur mendengar kabar bahwa hari ini sedang dibicarakan tentang perdamaian. Ini adalah harapan yang kami rindukan,” ujarnya.
Yance menambahkan, konflik di Kwamki Narama tidak hanya berdampak pada masyarakat setempat, tetapi juga dirasakan oleh warga di wilayah lain di Kabupaten Mimika.
Ia berharap proses dialog dan perdamaian yang sedang berjalan dapat segera membuahkan hasil, sehingga situasi keamanan di Kabupaten Mimika kembali kondusif dan masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang.
“Kami yang tinggal di SP2 pun merasa was-was. Keluar malam harus berjaga-jaga. Tekanan ini dirasakan semua pihak, bukan hanya warga Kwamki Narama,” ungkapnya.














