Timika, Torangbisa.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terus memperkuat pelayanan kesehatan dasar dengan mengoptimalkan peran Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Posyandu sebagai fasilitas kesehatan terdekat dengan masyarakat. Upaya ini didukung oleh lebih dari 2.000 tenaga kesehatan yang saat ini dimiliki Kabupaten Mimika.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, saat diwawancarai awak media pada Senin (02/02/2026).
Reynold menjelaskan, berdasarkan data Dinas Kesehatan, jumlah tenaga kesehatan di Mimika saat ini mencapai lebih dari dua ribu orang dan akan didistribusikan hingga ke kampung-kampung untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
“Pustu itu pada dasarnya adalah fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Kita melihat hari ini kesadaran masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sangat tinggi, baik untuk pemeriksaan kesehatan gratis, medical check up, maupun pengobatan saat sakit. Maka pelayanan harus kita dekatkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan, minimal tenaga yang harus ada di Pustu adalah satu perawat dan satu bidan. Namun dalam praktiknya, Dinas Kesehatan Mimika menyesuaikan jumlah dan jenis tenaga kesehatan berdasarkan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Menurut Reynold, penguatan Pustu dan Posyandu menjadi fokus utama pada tahun ini untuk mengurangi penumpukan pasien di Puskesmas, seiring dengan penerapan integrasi layanan primer berbasis siklus hidup.
“Alur pelayanan kesehatan itu mulai dari Posyandu, Pustu, baru ke Puskesmas. Dua layanan terbawah ini yang tahun ini kita perkuat, supaya tidak semua pasien harus datang ke Puskesmas,” jelasnya.
Saat ini, Kabupaten Mimika memiliki 42 Puskesmas Pembantu yang tersebar di 18 distrik. Meski demikian, tantangan terbesar masih berada di wilayah pegunungan dan pesisir, baik dari sisi topografi, akses transportasi, maupun kondisi cuaca.
“Hampir 80 persen penduduk Mimika berada di wilayah perkotaan, sementara wilayah pesisir dan pegunungan memiliki tantangan tersendiri, baik dari sisi akses maupun keamanan,” ungkap Reynold.
Ia juga memaparkan standar kebutuhan tenaga kesehatan di Puskesmas. Untuk Puskesmas dengan jumlah penduduk sekitar 5.000 jiwa, dibutuhkan sekitar 43 hingga 45 tenaga kesehatan yang terdiri dari satu dokter, delapan perawat, tujuh bidan, dua tenaga konseling, serta tenaga kesehatan lainnya.
“Kalau kita bicara ideal, satu dokter melayani sekitar 5.000 peserta JKN. Artinya, di wilayah kota seharusnya jumlah dokter cukup banyak, namun fakta di lapangan masih kurang. Karena itu, penguatan Pustu menjadi solusi agar pelayanan tetap berjalan,” katanya.
Selain tenaga kesehatan, Dinas Kesehatan Mimika juga mendorong penyediaan rumah dinas bagi petugas kesehatan, terutama di wilayah terpencil. Menurut Reynold, keberadaan rumah dinas akan membuat petugas bisa menetap dan tidak bolak-balik, sehingga pelayanan lebih optimal.
“Di wilayah pesisir seperti Kokona, jika seluruh rumah kopel difungsikan, sekitar 50 dari 84 tenaga kesehatan bisa tinggal menetap di sana. Ini juga penting untuk faktor keamanan dan kontinuitas pelayanan,” jelasnya.
Dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan Mimika juga terus melibatkan peran masyarakat, termasuk tokoh-tokoh lokal, dalam menjaga kebersihan lingkungan serta mendorong cakupan imunisasi.
“Imunisasi dasar lengkap di Mimika pada tahun 2025 masih berada di angka 76 persen, sama seperti tahun sebelumnya. Ini tetap kita jaga dengan melibatkan masyarakat secara aktif,” pungkas Reynold.












