Kesehatan

Dinkes Mimika Menyebut Angka Stunting Tahun 2025 Mengalami Penurunan

×

Dinkes Mimika Menyebut Angka Stunting Tahun 2025 Mengalami Penurunan

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra. Saat diwawancarai awak media (Foto: Yani/ Torangbisa.com)

Timika, Torangbisa.com – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, menyebutkan bahwa angka stunting di Kabupaten Mimika pada tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut disampaikan Reynold saat diwawancarai awak media pada Senin (02/02/2026).

Reynold menjelaskan, pada tahun 2025 angka stunting di Mimika berada di kisaran 11 persen atau sekitar seribu lebih kasus. Angka ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang tercatat berada di atas 1.500 kasus.

“Kalau kita bandingkan, di tahun 2025 itu angka stunting turun. Sekitar 11 persen atau seribu lebih kasus. Tahun 2024 itu masih di atas 1.500 kasus,” ujarnya.

Ia menambahkan, standar nasional angka stunting berada di bawah 14 persen. Meski demikian, menurutnya angka persentase tersebut hanya menjadi indikator untuk melihat sejauh mana progres yang dicapai pemerintah daerah.

“Standar nasional kan 14 persen, tapi sebenarnya itu hanya indikator untuk melihat progres kita di kabupaten,” jelas Reynold.

Lebih lanjut, Reynold menegaskan bahwa hal yang paling substansial dalam penanganan stunting adalah kehadiran negara dan pemerintah dalam memenuhi hak-hak dasar masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan.

“Yang paling penting itu negara harus hadir, pemerintah harus hadir memberikan hak masyarakat, terutama remaja putri, anak-anak, dan ibu hamil,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, Dinas Kesehatan Mimika terus mengembangkan berbagai intervensi, termasuk pencegahan penyakit pada ibu hamil seperti malaria melalui pemberian obat pencegahan. Upaya tersebut kemudian didukung dengan pemenuhan makanan bergizi serta peran aktif PKK di tingkat desa.

“Untuk ibu hamil, isu penyakit seperti malaria kita intervensi dengan obat pencegahan. Tinggal diikuti dengan makanan bergizi dan peran PKK di desa yang bisa mengelola ini dengan baik,” pungkas Reynold.