Kesehatan

Dinkes Mimika Catat Tren Penurunan Kasus Campak, Imunisasi Terus Digencarkan

×

Dinkes Mimika Catat Tren Penurunan Kasus Campak, Imunisasi Terus Digencarkan

Sebarkan artikel ini
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Kamaludin. Saat ditemui awak media (Foto: Yani/ Torangbisa.com)

Timika, Torangbisa.com – Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Kamaludin, mengungkapkan bahwa kasus campak di Mimika sempat mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) pada tahun-tahun sebelumnya, namun saat ini mulai menunjukkan tren penurunan, terutama sejak akhir tahun 2025.

Hal tersebut disampaikan Kamaludin saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Senin (19/01/2026).

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Menurut Kamaludin, KLB campak pertama kali terjadi pada tahun 2023 dengan jumlah kasus positif mencapai 19 kasus. Kondisi tersebut mendorong Dinas Kesehatan untuk melakukan berbagai upaya pengendalian, salah satunya melalui imunisasi tambahan campak.

“Setelah KLB tahun 2023, kita lakukan imunisasi tambahan. Tahun 2024 kasusnya sempat turun dan lebih terkendali, walaupun kemudian ada peningkatan lagi,” jelasnya.

Ia menerangkan, tidak semua peningkatan kasus campak dapat langsung dikategorikan sebagai KLB.

Penetapan KLB dilakukan apabila terdapat hubungan epidemiologi antar kasus, seperti penularan dalam satu keluarga atau lingkungan yang sama.

“Kalau kasusnya tersebar satu-satu dan tidak ada hubungan, itu belum bisa disebut KLB. Tapi kalau ada hubungan, misalnya saudara, tetangga, atau pernah kontak, itu kita curigai ada transmisi dan bisa ditetapkan sebagai KLB,” ujarnya.

Pada tahun 2025, Dinas Kesehatan kembali menetapkan KLB campak karena adanya peningkatan kasus yang saling berhubungan secara epidemiologi.

Menindaklanjuti hal tersebut, Dinkes Mimika melakukan imunisasi kejar, yakni mendata anak-anak yang belum diimunisasi lalu melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah.

“Kita lakukan imunisasi kejar, anak-anak yang belum diimunisasi kita datangi langsung ke rumah. Tujuannya supaya penularan bisa kita hentikan,” kata Kamaludin.

Dari hasil pemantauan, Kamaludin menyebutkan bahwa tren kasus campak mulai menurun pada bulan Desember 2025, meskipun jumlah kasus terduga masih tercatat sekitar 29 kasus yang tersebar di beberapa wilayah.

Namun, kasus tersebut masih bersifat suspek karena menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

“Sampai saat ini ada sekitar 29 kasus terduga. Yang sudah keluar hasil laboratoriumnya, itu benar-benar positif campak. Sampel darah kita kirim ke Surabaya, prosesnya memang cukup panjang,” jelasnya.

Ia menambahkan, dari sekitar 120 sampel yang diperiksa, sebagian dinyatakan positif campak, sementara sisanya negatif meskipun memiliki gejala yang mirip.

Terkait penanganan, Kamaludin menegaskan bahwa campak tidak memiliki obat khusus, namun dapat dicegah melalui imunisasi.

Pasien yang terkonfirmasi campak ditangani sesuai gejala, dan apabila mengalami komplikasi berat seperti pneumonia, akan dirawat di fasilitas kesehatan.

“Alhamdulillah, semua kasus sudah tertangani dan tidak ada laporan kematian akibat campak,” ungkapnya.

Kamaludin juga menyoroti rendahnya cakupan imunisasi sebagai faktor utama munculnya kembali penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Ia mengimbau para orang tua agar membawa anak-anak mereka ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi lengkap.

“Kami sangat berharap orang tua membawa bayinya ke posyandu untuk imunisasi lengkap, bukan hanya campak, tapi juga BCG, DPT, polio, dan lainnya, supaya anak-anak punya kekebalan,” pungkasnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mendukung program imunisasi sebagai langkah utama mencegah kembali terjadinya KLB campak di daerah tersebut.