Timika, Torangbisa.com – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mimika mengusulkan penambahan anggaran penanggulangan bencana pada 2027 menyusul habisnya stok bantuan bahan pangan bagi masyarakat terdampak bencana sepanjang 2026.
Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinsos Mimika, Yohanes Kum, mengatakan anggaran penanggulangan bencana yang dialokasikan pada tahun ini sebesar Rp2 miliar.
Namun, tingginya frekuensi bencana menyebabkan persediaan bantuan yang dimiliki Dinsos Mimika telah habis disalurkan kepada masyarakat.
“Stok bahan makanan untuk bantuan sudah kosong karena tahun ini terjadi banyak musibah, mulai dari kebakaran hingga bencana alam lainnya,” ujar Yohanes saat ditemui wartawan di Gedung Bobaigo, Kantor Keuskupan Mimika, Senin (26/10/2026).
Ia menjelaskan, Dinsos Mimika berupaya menambah persediaan logistik untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana berikutnya.
Namun, rencana tersebut terkendala kebijakan efisiensi dan penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), menyusul berkurangnya dukungan anggaran dari pemerintah pusat.
Karena itu, Dinsos Mimika terus berkoordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk mengusulkan penambahan anggaran penanggulangan bencana pada APBD 2027.
“Anggaran tahun ini hanya Rp2 miliar. Kami berkoordinasi dengan Bappeda untuk pengusulan penambahan anggaran pada 2027. Soal bantuan bencana dan kemanusiaan, masyarakat bertumpu pada Dinas Sosial,” paparnya.
Menurut Yohanes, tambahan anggaran sangat dibutuhkan untuk memperkuat kesiapsiagaan, terutama dalam menyediakan stok bantuan di Lumbung Sosial.
Ketersediaan kebutuhan dasar, seperti sembako, bahan pangan, dan pakaian, dinilai penting agar bantuan dapat segera disalurkan ketika bencana terjadi.
Ia menambahkan, kondisi geografis Kabupaten Mimika yang mencakup wilayah pegunungan hingga pesisir membuat penanganan bencana membutuhkan kesiapan logistik dan dukungan anggaran yang memadai.
Wilayah pegunungan berpotensi mengalami tanah longsor, sementara kawasan pesisir menghadapi risiko kekeringan dan cuaca ekstrem. Kondisi tersebut menuntut penanganan yang cepat agar masyarakat terdampak dapat segera memperoleh bantuan.
Sepanjang 2026, Dinsos Mimika telah menyalurkan puluhan ton bantuan ke sejumlah wilayah terdampak bencana, termasuk Kampung Banti, Tsinga, Nosolanop, dan Beanek yang mengalami tanah longsor.
Penyaluran bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau tersebut dilakukan melalui jalur udara dengan dukungan Government Relations PT Freeport Indonesia.
Selain bencana alam, Dinsos Mimika juga menangani kondisi darurat kemanusiaan. Salah satunya dengan menyalurkan bantuan pangan bagi masyarakat di Distrik Jila yang terdampak gangguan keamanan akibat insiden penembakan sehingga aktivitas berkebun warga sempat terbatas.
Yohanes berharap, usulan penambahan anggaran pada 2027 dapat direalisasikan agar Dinsos Mimika memiliki persediaan bantuan yang cukup untuk menghadapi berbagai kemungkinan bencana maupun situasi darurat kemanusiaan.
Dengan dukungan anggaran dan logistik yang memadai, penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak di wilayah pegunungan, pesisir, maupun daerah yang sulit dijangkau diharapkan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

















