Scroll untuk baca artikel
Mimika

Amar Mulai Kesulitan Air, Dampak Kemarau Terasa di Pesisir Mimika

×

Amar Mulai Kesulitan Air, Dampak Kemarau Terasa di Pesisir Mimika

Sebarkan artikel ini
Kapolsek Mimika Barat, Ipda Muhamad Yani (Foto: Istimewa)

Timika, Torangbisa.com — Musim kemarau mulai berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Kondisi paling terasa terjadi di Amar, sementara wilayah Kapiraya juga mulai mengalami penurunan debit air kali dan menyusutnya sejumlah sumber air.

Kapolsek Mimika Barat, Ipda Muhamad Yani, mengatakan dampak kemarau mulai terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Tidak hanya masyarakat, personel TNI-Polri yang bertugas di wilayah pesisir juga mulai mengalami keterbatasan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Di Amar, misalnya, sejumlah personel bahkan harus mengambil air dari Kokonao untuk memenuhi kebutuhan mandi saat pelaksanaan kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI.

“Rekan-rekan saya yang ada di Amar, termasuk anggota saya dan anggota Koramil, kegiatan 17-an itu mengambil air di Kokonao untuk air mandi. Artinya sudah ada dampaknya,” kata Muhamad Yani.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran nyata bahwa musim kemarau mulai memengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah pesisir Mimika.

Untuk memastikan kondisi sumber air, Yani telah meminta personelnya yang berada di Kapiraya melakukan pemantauan terhadap sejumlah mata air yang selama ini menjadi sumber kebutuhan masyarakat.

“Saya arahkan kemarin anggota saya yang ada di Kapiraya agar lihat mata air-mata air itu masih ada atau tidak. Kalau tidak ada, berarti memang dampak daripada kekeringan sudah ada,” ujarnya.

Selain mata air, penurunan debit air kali juga mulai dirasakan di Kapiraya. Kondisi air disebut tidak lagi seperti sebelumnya, baik dari sisi volume maupun suhu.

“Termasuk air kali juga sudah menipis di Kapiraya. Beda suhu airnya sebelumnya. Ada dampak kemarau,” jelasnya.

Dampak kemarau juga mulai terlihat pada kolam-kolam yang dimanfaatkan masyarakat, termasuk kolam ikan. Volume air yang sebelumnya cukup kini mulai mengalami penyusutan.

“Kolam-kolam yang ada di Kapiraya itu biasanya kolam ikan ada, ini sudah berkurang. Sudah mulai ada dampak daripada kemarau,” ungkap Muhamad Yani.

Dari sejumlah wilayah yang dipantau, Amar menjadi salah satu daerah yang dinilai paling merasakan dampak kekeringan. Jarak dan keterbatasan sumber air membuat kebutuhan air bersih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

“Yang lebih utamanya adalah Amar. Wilayah Amar itu sudah dampaknya. Anggota saya datang ambil (air). Itu bukti nyata bahwa kemaraunya sudah jalan di wilayah pesisir,” tuturnya.

Sementara itu, masyarakat di Kokonao untuk sementara masih terbantu oleh persediaan air hujan yang sebelumnya ditampung dalam bak penampungan. Namun, persediaan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara hemat dan dibagikan agar bisa memenuhi kebutuhan lebih banyak warga.

“Kebetulan ada air bak yang ditampung dari air hujan. Saya bilang, gunakan. Tapi kalau bisa dibagi, supaya ada pemenuhan kebutuhan masyarakat terbagi semua,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat di wilayah pesisir Mimika untuk mengantisipasi kemungkinan musim kemarau yang berlangsung lebih panjang. Berkurangnya debit kali, menyusutnya mata air, serta menipisnya cadangan air dapat semakin meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan air bersih masyarakat.

Dengan kondisi sumber air yang mulai berkurang, ketersediaan air bersih kini menjadi salah satu kebutuhan yang perlu mendapat perhatian serius di wilayah pesisir Mimika.