Timika, Torangbisa.com – Kabut asap yang menyelimuti wilayah Kabupaten Mimika semakin mengkhawatirkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Timika mencatat jarak pandang (visibility) di Timika hanya mencapai 600 meter pada Senin (12/10/2026) pagi. Angka ini menjadi jarak yang terpendek dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Timika, Fitria Nur Fadlilah, mengatakan jarak pandang tersebut terjadi sekitar pukul 06.00 hingga 07.30 WIT sekitar 600 meter. Sementara pada pukul 08.00 WIT, jarak pandang mulai meningkat menjadi sekitar 700 meter.
Padahal, pada hari-hari sebelumnya, jarak pandang di Timika masih berkisar antara 1.500 hingga 2.000 meter.
“Kalau kita lihat dari visibility, hari ini termasuk yang terpendek, sampai 600 meter. Sebelumnya, jarak pandang berada pada kisaran 1.500 sampai 2.000 meter,” jelas Fitria.
Menurutnya, kabut asap yang melanda Mimika bukan berasal dari kebakaran hutan atau lahan di wilayah setempat. Berdasarkan pembaruan data titik panas pada 12 Oktober 2026, BMKG tidak mencatat adanya hotspot di Kabupaten Mimika.
Sebaliknya, kondisi ini diduga dipengaruhi asap kiriman dari wilayah lain, terutama Papua Selatan yang saat ini mencatat ribuan titik panas.
Berdasarkan data pemantauan BMKG, jumlah titik panas di wilayah Papua Selatan mencapai 6.702 hotspot. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Merauke mencatat 5.231 hotspot.
Tingginya jumlah titik panas tersebut menjadi perhatian karena kondisi angin di Timika umumnya bertiup dari arah timur hingga tenggara. Pola angin ini memungkinkan asap dari wilayah timur dan tenggara, termasuk Papua Selatan, terbawa menuju Kabupaten Mimika.
“Jadi, asap yang ada di Timika ini merupakan asap kiriman. Kalau melihat kondisi angin secara umum, angin di Timika dominan dari arah timur hingga tenggara, sehingga asap dari wilayah tersebut terbawa ke Timika,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk wilayah Papua Tengah, BMKG mencatat total 136 titik panas berdasarkan data pemantauan hingga pukul 09.00 WIT.
Rinciannya, Kabupaten Nabire memiliki 22 titik panas, terdiri atas 20 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan dua titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Kabupaten Deiyai tercatat memiliki 43 titik panas, terdiri atas 39 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan empat titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Kabupaten Dogiyai memiliki 40 titik panas, terdiri atas 37 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan tiga titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Selanjutnya, Kabupaten Paniai tercatat memiliki 10 titik panas, terdiri atas delapan titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan dua titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Kabupaten Puncak memiliki 18 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang, sedangkan Puncak Jaya mencatat dua titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang.
Adapun Kabupaten Mimika tidak terdeteksi memiliki titik panas dalam pembaruan data tersebut.
Selain menyebabkan jarak pandang menurun drastis, kabut asap juga berdampak terhadap kualitas udara di Kabupaten Mimika.
Berdasarkan data yang disampaikan BMKG, kualitas udara di Mimika berada dalam kategori tidak sehat, dengan rentang nilai indeks kualitas udara 55,5–150,4.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama ketika kabut asap semakin pekat dan jarak pandang menurun. Masyarakat diimbau untuk mengurangi paparan asap, khususnya saat berada di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.
Fitria menjelaskan, belum dapat dipastikan kapan kabut asap akan sepenuhnya berakhir. Kondisi tersebut sangat bergantung pada penanganan titik panas di wilayah sumber asap, khususnya Papua Selatan.
Apabila titik-titik panas dapat ditangani dengan cepat dan kondisi angin mendukung, kabut asap yang menyelimuti Mimika berpeluang berangsur berkurang.
Dengan jarak pandang yang sempat turun hingga 600 meter dan ribuan titik panas yang terpantau di Papua Selatan, perkembangan kondisi atmosfer serta kualitas udara di Mimika masih perlu terus dipantau.















