Jakarta, Torangbisa.com — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan membawa paradoks besar bagi kehidupan manusia. Teknologi yang awalnya diciptakan untuk membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan justru berpotensi membentuk cara manusia berpikir, memilih, bahkan menentukan perilakunya.
Gagasan tersebut disampaikan Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers, dalam pandangannya mengenai perubahan manusia di tengah budaya digital.
Menurut Komaruddin, manusia pada awalnya menciptakan mesin pintar agar kehidupan menjadi lebih mudah dan nyaman. Namun, tanpa disadari, hubungan itu perlahan berubah. Mesin yang semula menjadi alat bantu justru mulai memengaruhi manusia dalam menentukan pilihan.
“Manusia membuat algoritma untuk membantu menganalisis berbagai masalah dan menetapkan keputusan. Tetapi pada urutannya, tanpa disadari berbagai keputusan itu diserahkan kembali kepada algoritma,” demikian gagasan Komaruddin.
Algoritma kemudian hadir dalam hampir seluruh aktivitas kehidupan manusia. Ia menentukan rekomendasi berita, video, barang yang dibeli, hingga informasi yang dianggap penting.
Dari sinilah, menurut Komaruddin, muncul figur baru yang dapat disebut “algo sapiens”, yang perlahan menggeser posisi homo sapiens.
Algo sapiens bukanlah manusia yang berubah menjadi robot. Ia tetap manusia dengan tubuh biologis, emosi, keluarga, agama, keinginan dan kehidupan sosial.
Namun, cara berpikir dan kebiasaan mengambil keputusan semakin dipengaruhi oleh sistem algoritmik.
Apa yang dibaca, ditonton, dibeli, dipercaya, bahkan apa yang dianggap penting, dapat dibentuk oleh sistem rekomendasi.
Yang menjadi persoalan, manusia tetap merasa dirinya bebas.
Kekuasaan algoritmik tidak bekerja seperti polisi yang berdiri di jalan sambil meniup peluit dan memberikan perintah. Kekuasaan digital bekerja jauh lebih halus melalui rekomendasi.
Bukan mengatakan, “Lakukan ini!”, tetapi menawarkan, “Saya tahu apa yang Anda sukai dan saya punya saran untuk Anda.”
Pada titik inilah manusia perlu menyadari bahwa kebebasan memilih bukan hanya soal masih adanya pilihan, tetapi juga soal siapa yang membentuk lingkungan tempat pilihan tersebut disediakan.
Komaruddin mengaitkan fenomena tersebut dengan pemikiran Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2018).
Zuboff menjelaskan bagaimana pengalaman manusia dapat diekstraksi menjadi data perilaku. Data tersebut kemudian diproses untuk memprediksi apa yang kemungkinan dilakukan seseorang, baik sekarang maupun di masa mendatang.
Jejak digital manusia kini menjadi sumber data yang sangat besar.
Ketika seseorang mencari informasi di internet, menggunakan media sosial, membawa telepon pintar, berbelanja secara daring, menonton video atau bahkan berhenti beberapa detik lebih lama pada sebuah gambar, aktivitas tersebut dapat menjadi bagian dari rekam jejak digital.
Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin sistem dapat membaca pola perilaku seseorang.
Pada tahap awal, algoritma membaca apa yang disukai manusia. Berikutnya, algoritma memprediksi apa yang kemungkinan dilakukan. Pada tahap berikutnya, sistem dapat memengaruhi perilaku agar sesuai dengan prediksi tersebut.
Dalam perspektif Zuboff, proses tersebut bergerak dari pengawasan, prediksi, intervensi hingga modifikasi perilaku.
Di sinilah era algoritma berbeda dari sekadar era komputer.
Persoalan tersebut juga dibawa Franklin Foer dalam World Without Mind (2017).
Foer tidak hanya melihat ancaman terhadap privasi, tetapi juga terhadap otonomi pikiran manusia.
Algoritma dapat memengaruhi cara seseorang memperoleh informasi. Pengguna merasa sedang mencari informasi secara bebas, padahal informasi yang tampil di hadapannya telah disusun berdasarkan sistem rekomendasi.
Seseorang membuka internet untuk mencari berita. Namun, berita yang muncul pertama kali telah dipilihkan oleh algoritma.
Seseorang memilih video berdasarkan keinginannya. Tetapi rekomendasi video berikutnya telah dipengaruhi oleh ribuan jejak perilaku sebelumnya.
Persoalannya bukan manusia kehilangan kemampuan memilih. Persoalannya adalah manusia dapat kehilangan kesadaran mengenai siapa yang membentuk medan pilihannya.
Dalam konteks tersebut, kekuasaan algoritmik dapat menciptakan bentuk “penjara” baru.
Manusia tetap dapat memilih, tetapi pilihan yang tersedia telah disusun dalam sebuah lingkungan digital yang dibentuk berdasarkan data dan perilaku masa lalu.
Kita masih dapat membaca, tetapi apa yang muncul paling atas telah ditentukan oleh sistem.
Kita masih dapat menonton apa saja, tetapi rekomendasi berikutnya terus diarahkan berdasarkan apa yang sebelumnya kita tonton.
Karena itu, kekuasaan algoritmik tidak selalu membutuhkan perintah. Cukup dengan mengatur informasi, pilihan dan rekomendasi yang berada di depan mata manusia.
Kemajuan teknologi ternyata tidak otomatis menghilangkan kecemasan manusia.
Perasaan takut gagal, tertinggal, tersingkir, kehilangan masa depan dan kehilangan kendali atas kehidupan sendiri tetap menjadi bagian dari pengalaman manusia.
Komaruddin mengaitkan persoalan tersebut dengan pemikiran Han Byung-chul mengenai masyarakat yang semakin diliputi kecemasan dan kesepian.
Jika pemikiran Zuboff, Foer dan Han Byung-chul ditempatkan berdampingan, muncul sebuah pertanyaan mendasar:
Apa yang terjadi ketika manusia semakin kehilangan kemampuan untuk mengendalikan hidupnya sendiri?
Teknologi memang membuat manusia lebih mudah memperoleh informasi. Namun, pada saat yang sama, manusia semakin sulit membedakan informasi yang benar-benar dicari dengan informasi yang sengaja hadir membanjiri ruang pikirannya.
Kemudahan kemudian berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan dapat berubah menjadi ketergantungan.
Pada titik tertentu, ketergantungan tersebut berpotensi melemahkan kemampuan manusia untuk berpikir secara mandiri.
Daya ingat tidak lagi banyak dilatih. Kemampuan menganalisis dapat semakin bergantung pada mesin. Bahkan pengalaman melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan bisa semakin berkurang karena manusia terbiasa mendapatkan jawaban secara instan.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah seberapa pintar mesin yang diciptakan manusia.
Persoalannya adalah apakah manusia masih mampu mempertahankan kemampuan untuk berpikir, meragukan, merenung, berempati dan mengambil keputusan secara sadar.
Manusia menjadi manusia karena mampu bertanya, pernah salah, lupa, mencari jawaban, memperbaiki diri dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Ketika proses berpikir dan pencarian jawaban semakin banyak didelegasikan kepada mesin cerdas, muncul pertanyaan penting tentang siapa yang menjadi subjek dan agen yang bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
Kecerdasan buatan dapat memiliki intelligence yang semakin tinggi. Namun, kecerdasan tidak otomatis menjadi kebijaksanaan.
Algoritma bekerja berdasarkan data dan pola masa lalu untuk memprediksi masa depan. Manusia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki algoritma: memutus pola.
Manusia dapat berubah. Manusia dapat bertobat. Manusia dapat memilih jalan baru yang tidak sesuai dengan rekam jejak masa lalunya.
Karena itu, tantangan terbesar era digital bukan sekadar menjaga privasi atau mengendalikan teknologi.
Tantangan yang jauh lebih mendasar adalah memastikan manusia tidak kehilangan dirinya sendiri.
Sebab ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merenung, meragukan, membayangkan, berempati, berharap dan memilih hidup baru secara sadar, yang hilang bukan hanya privasi.
Yang dipertaruhkan adalah esensi kemanusiaan itu sendiri.

















