Kabar Kampung

Banjir Dalam Kota Bukan karena Drainase, Tapi Karena Sampah, Kadistrik Miru Ajak Warga Maksimalkan Bank Sampah

×

Banjir Dalam Kota Bukan karena Drainase, Tapi Karena Sampah, Kadistrik Miru Ajak Warga Maksimalkan Bank Sampah

Sebarkan artikel ini
Kepala Distrik Mimika Baru, Joel D Luhukay, saat memberikan arahan dalam kegiatan musrenbang (Foto: Yani/ Torangbisa.com)

Timika, Torangbisa.com – Kepala Distrik Mimika Baru, Joel Daniel Luhukay, mengatakan bahwa persoalan banjir yang kerap terjadi di wilayah Kota Timika bukan disebabkan oleh sistem drainase yang buruk, melainkan rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya.

Menurutnya, berdasarkan hasil tinjauan langsung di lapangan, penyumbatan saluran air akibat sampah menjadi penyebab utama terjadinya genangan saat hujan turun.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

“Dalam kota ini sering terjadi banjir bukan karena drainase, tetapi karena kesalahan masyarakat membuang sampah sembarangan,” tegasnya.

Joel mengungkapkan bahwa dirinya rutin turun ke setiap kelurahan untuk memantau kondisi kali dan selokan serta melakukan pembersihan sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi genangan air saat musim hujan. Namun, upaya tersebut dinilai belum maksimal tanpa dukungan kesadaran warga.

Ia juga menjelaskan bahwa saat ini telah dibentuk bank sampah di Distrik Mimika Baru yang bertugas mengelola sampah masyarakat. Petugas yang menggunakan rompi dan berkeliling merupakan bagian dari program tersebut.

“Bapak ibu cukup taruh sampah di depan rumah, nanti petugas jemput. Tidak perlu buang sembarangan,” ujarnya.

Joel menyebut, petugas bank sampah tidak hanya mengangkut sampah, tetapi juga memilah antara sampah organik dan limbah. Sampah organik dikumpulkan di kantor distrik, sedangkan limbah akan diserahkan ke Dinas Lingkungan Hidup untuk diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Selain itu, karena belum adanya kontrak pihak ketiga untuk pembersihan median jalan, sementara ini petugas bank sampah juga merangkap melakukan penyapuan jalan. Meski demikian, jumlah personel masih terbatas.

“Personel kita hanya 22 orang untuk mengelola wilayah kota yang luas. Mereka kerja dobel, tapi gaji tetap satu,” jelasnya.

Joel menegaskan, langkah tersebut diambil untuk menjaga kebersihan kota agar tidak dipenuhi sampah yang dapat memperparah banjir. Ia bahkan membuka akses komunikasi bagi warga yang membutuhkan layanan pengangkutan sampah.

“Kalau ada sampah di rumah, sebutkan alamat dan lorongnya. Sepuluh menit mobil sudah tiba. Saya monitor langsung,” katanya.

Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan karena dampaknya dirasakan bersama saat terjadi hujan dan banjir.

“Kalau kita masih buang sampah sembarangan, saat hujan pasti banjir. Kita semua yang rugi,” pungkasnya.