Olahraga

Opa Udhin, Master Runner dari Nabire: Konsisten Puasa Senin-Kamis, Siap Taklukkan HM Makassar 2026

×

Opa Udhin, Master Runner dari Nabire: Konsisten Puasa Senin-Kamis, Siap Taklukkan HM Makassar 2026

Sebarkan artikel ini
Runner dari Nabire Udhi Amiruddin saat di wawancarai (foto: Nando/ Torangbisa.com)

Nabire, Torangbisa.com – Ramadan 1447 Hijriah menjadi momen spesial untuk mengenal lebih dekat sosok inspiratif dari “mama kota” Papua Tengah, Nabire. Dialah Udhi Amiruddin, akrab disapa Opa Udhin, master runner yang dikenal dengan semangat, konsistensi, dan dedikasinya di dunia lari.

Tak hanya aktif berlatih hampir setiap hari di kawasan Bandara Lama Nabire, Opa Udhin juga dikenal disiplin menjalankan puasa Senin-Kamis. Kombinasi spiritualitas dan olahraga menjadi kunci kekuatan mental dan fisiknya hingga mampu bersaing di berbagai ajang lari, baik di Papua maupun luar daerah.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Sepanjang 2025–2026, sederet prestasi berhasil ia torehkan. Di antaranya Juara 3 KPU Papua Tengah 2025, Juara 2 HUT Papua Tengah 2025, Juara 5 Hero Tun Nabire 2025, Juara 1 Sorong Run 2025, Juara 2 Timika Half Marathon 2025, serta Juara 3 Tiba-Tiba Run Nabire 2026. Ia juga tercatat sebagai finisher Half Marathon Makassar 2025, Timika Kuala 21K, hingga 21K di Madinah dan race di Mekkah.

Khusus di Ramadan tahun ini, Opa Udhin bahkan berlari sejauh 14,47 kilometer sebagai simbol 1447 Hijriah. Sebuah bentuk konsistensi yang bukan sekadar fisik, tetapi juga spiritual.

Beberapa tahun lalu, Opa Udhin mulai mengenal lari karena merasa kondisi tubuhnya kurang ideal. Perut yang mulai membuncit menjadi titik balik. Meski saat itu ia belum memahami teknik dan strategi lari, ia hanya tahu satu hal: ingin mencoba sesuatu yang baru dan menantang diri sendiri.

Dari coba-coba, ia jatuh cinta. Pengalaman mengikuti lomba pertama menjadi momen yang mengubah hidupnya.

“Rasanya luar biasa. Dari situ saya tahu bisa melakukan lebih banyak hal. Saya merasa bangga dan percaya diri,” ujarnya.

Tahun ini, Opa Udhin tengah mempersiapkan diri menghadapi HM Marathon 2026 di Makassar dan UngaRUN 2026 di Semarang. Target utamanya adalah memecahkan personal record (PR) di nomor 10K dan Half Marathon.

Latihan yang paling berat menurutnya justru easy run. Meski terlihat ringan, latihan ini menjadi fondasi utama membangun daya tahan dan efisiensi jantung serta paru-paru.

“Easy run itu bukan junk miles. Itu dasar utama untuk performa jangka panjang,” tegasnya.

Bagi Opa Udhin, bagian tersulit saat race adalah kilometer-kilometer akhir. Saat tubuh mulai lelah, mental harus tetap kuat.

“Kalau pikiran sudah kuat, fisik akan mengikuti. Mental itu 70 persen,” katanya.

Ia dikenal kuat dalam finishing sprint. Strateginya memulai dengan pace stabil, lalu meningkatkan kecepatan mendekati garis akhir. Fokus pada napas, langkah kaki, serta tujuan awal menjadi kunci saat rasa lelah datang.

Kegagalan pun pernah ia rasakan saat tidak naik podium. Dari situ ia belajar untuk tidak meremehkan jarak dan mengatur energi lebih bijak.

Keluarga serta sahabat-sahabat runner dari Nabire, Timika, Sorong, Jayapura, Merauke, hingga Manokwari menjadi penyemangat utama. Komunitas runner di Bandara Lama Nabire juga selalu setia mendukungnya.

“Tanpa mereka, mungkin saya tidak bisa sejauh ini,” ungkapnya.

Di bulan suci ini, Opa Udhin berpesan kepada para pelari agar tetap bijak menjaga kesehatan.

“Dengarkan tubuhmu. Jika lelah, istirahatlah. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi menjaga kesehatan.”

Ia juga mengingatkan pentingnya berbuka dengan makanan bergizi, cukup tidur, tidak begadang, serta memperkuat doa dan rasa syukur.

Impian terbesarnya sederhana namun penuh makna: terus berlari sampai akhir hayat dan kembali merasakan atmosfer race di Madinah dan Mekkah.

Dari Nabire untuk Indonesia, Opa Udhin membuktikan bahwa usia bukan batasan, dan konsistensi adalah kunci. Di setiap langkahnya, ia tak hanya berlari mengejar garis finish, tetapi juga mengejar versi terbaik dari dirinya sendiri.