Timika, Torangbisa.com – Suasana sore hari di Pagar Kuning Jalan Bandara selalu dipenuhi aktivitas warga. Tempat yang kini menjadi salah satu lokasi olahraga paling “happening” di Timika itu tak pernah kehilangan denyut kehidupan, bahkan di bulan suci Ramadhan.
Dari anak-anak hingga orang tua, mayoritas warga datang dengan satu tujuan utama: berolahraga, khususnya berlari.
Setiap sore, lintasan Pagar Kuning dipadati pelari yang tetap konsisten menjaga kebugaran. Ramainya aktivitas ini menjadi bukti tingginya kesadaran masyarakat Timika akan pentingnya hidup sehat, meski tengah menjalani ibadah puasa.
Di antara para pelari yang rutin hadir, sosok Amelia Elly, atau akrab disapa Kaka El, menjadi salah satu inspirasi. Ia dikenal sangat disiplin berolahraga dan hampir setiap hari terlihat berlari bersama rekan-rekannya. Selain sebagai founder Kids Runners Timika, Kaka El juga merupakan anggota aktif Cendrawasih Runners Timika.
Menurut Kaka El, berlari saat puasa tetap aman selamat dilakukan dengan bijak dan menyesuaikan kondisi tubuh. “Yang terpenting tidak memaksakan diri, cukup istirahat, dan memahami batas kemampuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, waktu terbaik untuk berlari di bulan Ramadhan bisa dilakukan sebelum berbuka puasa, setelah sahur atau sholat subuh, maupun setelah tarawih.
Namun, setiap pilihan waktu harus disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing. “Durasi ideal sekitar 20–30 menit dengan intensitas ringan hingga sedang agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan,” tambahnya.
Kaka El juga menekankan pentingnya menurunkan intensitas latihan selama Ramadhan. Fokus pada jogging ringan atau jalan cepat dinilai lebih aman, serta tetap dibarengi asupan nutrisi dan cairan yang cukup saat sahur dan berbuka. Ia menyarankan memilih makanan bergizi seimbang dan menghindari makanan berat atau terlalu pedas.
Tak hanya soal fisik, kebersamaan komunitas menjadi kunci menjaga semangat. Sejumlah komunitas lari di Timika tetap menggelar latihan rutin dengan intensitas lebih rendah, bahkan menyiapkan program khusus seperti “Run Ramadhan” atau “Ngabuburun” untuk menjaga motivasi anggota.
“Berlari itu bukan hanya soal kecepatan, tapi juga kebahagiaan dan kebersamaan,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan pentingnya strength training untuk membangun massa otot, meski di bulan puasa.
Lebih dari sekadar olahraga, berlari di bulan Ramadhan memiliki makna spiritual. Aktivitas ini dapat menjadi bagian dari ibadah, meningkatkan kesadaran diri, serta memicu hormon kebahagiaan.
Di Pagar Kuning, semangat itu terasa nyata menyatukan tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, dan kebersamaan warga Timika yang tak pernah padam.















