Timika, Torangbisa.com – Komisi II DPRK Mimika berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama PT Freeport Indonesia sebagai upaya mendorong optimalisasi penyerapan hasil peternakan dan pertanian lokal. Rencana tersebut sejatinya telah disusun sejak tahun 2025 lalu.
Sekretaris Komisi II DPRK Mimika, Adrian Andika Thie, mengatakan PT Freeport Indonesia saat ini merupakan salah satu konsumen terbesar di Mimika, tidak hanya untuk kebutuhan daging, tetapi juga hasil pertanian.
“Fakta yang kita lihat, sebagian besar kebutuhan tersebut masih didatangkan dari luar daerah. Padahal Mimika punya potensi besar,” ujar Adrian.
Ia menyebutkan, untuk kebutuhan daging ayam, saat ini terdapat Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Mimika dan PT Freeport Indonesia melalui Pangansari dengan kapasitas mencapai 30 ton per bulan. Namun, realisasi pasokan dari peternak lokal belum maksimal.
Menurut Adrian, salah satu kendala utama adalah kesiapan fasilitas dan standar kualitas yang ditetapkan oleh Freeport. Karena itu, DPRK mendorong agar fasilitas pendukung seperti rumah potong hewan, pabrik pakan, dan kandang ternak benar-benar dilengkapi sesuai standar.
“Kalau fasilitas kita sudah sesuai standar, Pangansari pasti membuka diri untuk menerima pasokan penuh dari peternak lokal. Kita tidak mau lagi daging ayam, ayam petelur, maupun daging babi diambil dari luar daerah,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberpihakan pada produk lokal sangat penting untuk menjaga motivasi pengusaha dan peternak lokal agar terus mengembangkan usahanya.
“Jangan sampai fasilitas sudah dibangun, tetapi tidak ada output. Itu bisa mematikan semangat peternak dan pengusaha lokal kita,” katanya.
Untuk itu, Komisi II DPRK Mimika berkomitmen memfasilitasi pertemuan antara Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, dan PT Freeport Indonesia melalui Pangansari, guna membahas secara detail kebutuhan dan standar yang harus dipenuhi daerah.
“Kita perlu duduk bersama. Apa standar kualitasnya, apa yang dibutuhkan Pangansari, itu harus jelas supaya kita bisa menyiapkan standarisasi yang sesuai,” jelas Adrian.
Ia menekankan, standarisasi tersebut penting agar tidak ada lagi alasan bagi pihak konsumen besar untuk mendatangkan daging ayam, sapi, babi, maupun telur dari luar Mimika.
Hal serupa juga akan didorong pada sektor pertanian. Adrian menilai petani lokal di Mimika cukup banyak dan produktif, namun masih terdapat sejumlah komoditas sayur dan buah yang didatangkan dari luar daerah.
“Kedepan kita ingin fokus agar kebutuhan sayur dan buah untuk Pangansari bisa disuplai dari petani lokal. Ini bagian dari upaya membangun kemandirian pangan daerah,” ujarnya.














