Timika, Torangbisa.com – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, menegaskan bahwa keberhasilan program kesehatan di Mimika tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat, khususnya dalam pengobatan penyakit kronis seperti HIV/AIDS, TBC, dan malaria.
Hal tersebut disampaikan Reynold saat diwawancarai awak media pada Senin (02/02/2026).
Reynold menjelaskan, sejalan dengan meningkatnya jumlah pasien yang menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV) di Mimika, pihaknya melihat adanya satu role model penting dari tiga program prioritas kesehatan, yakni keterlibatan aktif berbagai pihak.
“Selain peran teman-teman media yang selama ini membantu Dinas Kesehatan dalam memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat, upaya promotif dan preventif dari masyarakat juga sangat berpengaruh,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan masyarakat dalam kepatuhan pengobatan bagi pasien dengan penyakit kronis menjadi faktor penting dalam meningkatkan keberhasilan program kesehatan.
“Pola ini sebenarnya bisa kita potret sebagai model, bahwa partisipasi masyarakat sangat membantu, terutama dalam mendukung pasien agar patuh menjalani pengobatan,” jelas Reynold.
Selain itu, Reynold juga memaparkan perkembangan penanganan stunting di Kabupaten Mimika. Saat ini, angka stunting berada di kisaran 9,1 hingga 9,2 persen dan terbilang stabil dalam beberapa tahun terakhir.
“Range stunting di Mimika itu cukup stabil, dari angka 9 sampai paling tinggi 11 persen. Sementara angka nasional berada di 14 persen dan tidak boleh melebihi angka tersebut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, jumlah balita yang ditimbang dan diukur di Mimika mencapai lebih dari 25 ribu anak, dan angka tersebut relatif sama dengan tahun sebelumnya.
Untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan Mimika pada tahun 2026 akan mengaktifkan kembali Puskesmas Pembantu (Pustu) di seluruh wilayah. Langkah ini diambil untuk mengurangi penumpukan pelayanan di Puskesmas induk.
“Kita akan melakukan hand over dan mengaktifkan Pustu, sehingga masyarakat tidak semuanya menumpuk di Puskesmas. Dengan tenaga kesehatan yang saat ini berjumlah lebih dari 2.000 orang, kita akan perkuat pelayanan di Pustu-Pustu,” kata Reynold.
Ia menjelaskan, pola pelayanan yang diterapkan masih sama seperti tahun sebelumnya, namun dengan konsep Pustu yang lebih aktif dan bergerak di tengah masyarakat. Dalam sistem ini, Puskesmas berperan sebagai penerima rujukan dari Pustu sekaligus sebagai pengawas, pendamping, dan mentor bagi tenaga kesehatan di Pustu.
“Pustu akan berjalan bersama masyarakat dan kelompok-kelompok masyarakat di wilayahnya, sehingga akses pelayanan kesehatan menjadi lebih dekat,” ujarnya.
Reynold juga memastikan bahwa tenaga medis, termasuk dokter, akan ditempatkan di Pustu. Dinas Kesehatan Mimika akan menurunkan lima tenaga kesehatan esensial dari Puskesmas untuk aktif melayani di Puskesmas-Puskesmas Pembantu.
“Kami ingin memastikan aksesibilitas pelayanan kesehatan semakin mudah dan merata bagi seluruh masyarakat Mimika,” pungkasnya.








