Timika, Torangbisa.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terus berupaya memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah pesisir dan pegunungan dengan menyiapkan rumah petugas, fasilitas kesehatan, hingga sarana penunjang lainnya. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi percepatan penanganan stunting di Mimika.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, saat diwawancarai awak media pada Senin (02/02/2026).
Reynold menjelaskan, sejumlah wilayah telah dan sedang disiapkan fasilitas pendukung bagi tenaga kesehatan, mulai dari wilayah pesisir hingga pegunungan. Di antaranya Ain Dua dan Mapar di wilayah pesisir, wilayah Amungun, serta wilayah pegunungan seperti Omponi dan Arwanop.
“Untuk Ain Dua dan Mapar, kami siapkan rumah petugas. Di wilayah Amungun, kami membangun klinik pertama lengkap dengan rumah petugas, sarana dan prasarana, termasuk ambulans sebagai transportasi pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa rumah petugas telah dibangun sejak tahun lalu dan siap difungsikan pada tahun ini, termasuk di Singa. Sementara untuk wilayah Arwanop, Dinas Kesehatan kembali mengupayakan pengaktifan fasilitas yang sudah ada agar pelayanan kesehatan dapat berjalan optimal.
Selain penguatan fasilitas kesehatan, Reynold juga menyoroti isu utama penyebab stunting. Menurutnya, secara global terdapat dua faktor utama penyebab stunting, yakni malnutrisi atau gangguan gizi, serta penyakit infeksi.
“Di Mimika, untuk menyelesaikan dua persoalan besar ini, intervensi dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu isu spesifik dan isu sensitif,” jelasnya.
Ia menerangkan, intervensi isu sensitif saat ini menjadi fokus utama, seperti penyediaan air bersih dan rumah layak huni. Sejalan dengan tema pembangunan Mimika dari kampung ke kota, pemerintah daerah terus mendorong penyediaan rumah sehat dan akses air bersih yang dinilai sangat membantu penurunan angka stunting.
“Air bersih dan rumah sehat itu sangat berpengaruh. Program ini terus kita dorong dan canangkan,” katanya.
Sementara itu, dari sisi isu spesifik, Dinas Kesehatan Mimika berfokus pada pengendalian penyakit yang rentan menyerang ibu hamil, bayi, dan balita. Selain itu, perhatian juga diberikan kepada remaja putri sebagai kelompok strategis dalam pencegahan stunting.
“Kami lakukan pemeriksaan kesehatan anak sekolah, terutama remaja putri, pemberian gizi, tablet Fe, serta obat cacing. Ini menjadi satu paket layanan yang saling terintegrasi,” ungkap Reynold.
Ia menegaskan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara terpisah antarprogram, melainkan harus berjalan bersama dan saling mendukung, baik melalui intervensi kesehatan maupun dukungan pembangunan dasar di masyarakat.
“Semua ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus terintegrasi antara isu sensitif dan isu spesifik agar hasilnya benar-benar berdampak,” pungkasnya.








