Timika, Torangbisa.com – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama dalam pelayanan kesehatan di Mimika adalah keterbatasan ketersediaan vaksin untuk imunisasi dasar lengkap, seperti DPT dan polio.
Hal tersebut disampaikan Reynold saat diwawancarai awak media pada Senin (02/02/2026).
Menurut Reynold, keterbatasan stok vaksin berdampak pada cakupan imunisasi dasar lengkap yang hingga saat ini masih berada di kisaran 76 persen, jauh di bawah standar nasional yang ditetapkan sebesar 90 persen.
“Salah satu penyebabnya adalah ketersediaan vaksin imunisasi dasar yang masih terbatas. Vaksin ini kita peroleh dari Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Dinas Kesehatan Mimika terus berupaya berkoordinasi agar pelaksanaan imunisasi nasional dapat kembali dilakukan, yang direncanakan pada sekitar bulan Maret 2026.
Selain isu imunisasi, Reynold juga menyoroti penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang biasanya menjadi persoalan di awal tahun. Namun pada tahun 2025, kasus DBD di Mimika berhasil ditekan secara signifikan.
“Biasanya dalam tiga bulan pertama, kasus DBD sudah mencapai ratusan. Tapi di tahun 2025, setelah pemberian vaksin dengue, sampai minggu lalu kasusnya hanya sekitar lima,” ungkapnya.
Ia menilai vaksin dengue memberikan dampak besar dalam upaya perlindungan masyarakat. Meski demikian, penyediaan vaksin dengue masih dilakukan secara mandiri dan membutuhkan dukungan berbagai pihak.
“Karena itu kami terus berkomunikasi dengan PT Freeport Indonesia, yang tahun lalu telah berkontribusi, agar program baik ini bisa berlanjut,” jelas Reynold.
Terkait anggaran vaksin, Reynold menegaskan bahwa anggaran tersedia, namun tetap harus disesuaikan dengan skala prioritas. Menurutnya, imunisasi dasar lengkap masih menjadi prioritas utama dibandingkan vaksin lainnya.
“Vaksin dengue itu penting, tapi yang paling utama adalah imunisasi dasar lengkap. Selain vaksin, upaya pengendalian faktor lingkungan juga menjadi langkah paling mendasar,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan lain dalam imunisasi adalah pemahaman masyarakat tentang pentingnya vaksin, sehingga edukasi masih perlu terus diperkuat.
Meski demikian, Reynold menyebutkan bahwa dari lebih dari 7.000 kelahiran yang terjadi di Mimika sepanjang tahun 2025, lebih dari 90 persen bayi baru lahir telah langsung menerima imunisasi dasar.
“Itu capaian yang baik, tapi secara keseluruhan cakupan imunisasi dasar kita masih 76 persen. Artinya masih ada kesenjangan dan risiko munculnya penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, seperti campak,” ujarnya.
Untuk tahun 2026, Dinas Kesehatan Mimika akan memfokuskan penguatan fasilitas kesehatan di wilayah kampung, sejalan dengan tema pembangunan daerah dari kampung ke kota. Beberapa wilayah yang menjadi perhatian antara lain Ain Dua dan Amungun.
“Konsen kami tahun ini adalah memperkuat fasilitas kesehatan di kampung-kampung agar pelayanan lebih merata dan mudah diakses masyarakat,” pungkas Reynold.












