Pendidikan

SMK Negeri 2 Mimika Terapkan Pendidikan Inklusif dan TEFA untuk Cetak Lulusan Siap Kerja

×

SMK Negeri 2 Mimika Terapkan Pendidikan Inklusif dan TEFA untuk Cetak Lulusan Siap Kerja

Sebarkan artikel ini
Kepala SMK Negeri 2 Mimika, Slamet, bersama para guru dan siswa dalam sesi foto bersama (foto: Nando/ Torangbisa.com) 

Timika, Torangbisa.com – SMK Negeri 2 Mimika terus berkomitmen menghadirkan pendidikan vokasi yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan dunia kerja.

Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala SMK Negeri 2 Mimika, Slamet, pada Sabtu (7/2/2026), saat menjelaskan berbagai strategi sekolah dalam menangani siswa dengan keterbatasan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas lulusan.

Ads
Iklan ini dibuat oleh admin torangbisa

Slamet mengungkapkan, sekolah menerapkan pendekatan komprehensif bagi siswa kurang mampu, mulai dari bantuan finansial melalui Program Indonesia Pintar (PIP), bantuan biaya sekolah, hingga penyediaan sarana belajar seperti buku dan seragam gratis. Selain itu, sekolah juga memberikan perhatian pada kebutuhan dasar siswa, termasuk bantuan nutrisi.

“Jika ada siswa yang belum sarapan, mereka bisa menyampaikan ke guru atau jurusan masing-masing. Sekolah menyediakan fasilitas sederhana, bahkan siswa diarahkan untuk memasak sendiri bila diperlukan. Intinya, tidak boleh ada siswa yang terhambat belajar karena faktor ekonomi,” ujarnya.

Selain PIP, SMK Negeri 2 Mimika juga menjalin kerja sama dengan YPMAK untuk membantu siswa Orang Asli Papua, khususnya dari suku Amungme dan Kamoro. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan sekolah hingga dukungan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Lebih lanjut, Slamet menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung keberhasilan pendidikan di SMK. Orang tua diharapkan menjadi mitra aktif sekolah dalam membentuk kedisiplinan, kemandirian, dan karakter siswa, serta menjalin komunikasi intensif dengan guru dan wali kelas.

“Peran orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memotivasi anak untuk disiplin hadir di sekolah, aktif dalam pembelajaran, dan serius mengikuti praktik industri agar memiliki kompetensi yang berkualitas dan siap kerja,” jelasnya.

Dalam menghadapi tuntutan dunia kerja, SMK Negeri 2 Mimika kini mewajibkan penerapan Teaching Factory (TEFA) pada seluruh proses pembelajaran.

Melalui model ini, siswa belajar berbasis proyek dan praktik industri, sementara guru berperan sebagai pembimbing dan pengawas.

“TEFA sangat bermanfaat karena pembelajaran disesuaikan dengan standar dunia usaha dan dunia industri. Tahun ini, seluruh pembelajaran di SMK Negeri 2 Mimika wajib berbasis TEFA,” tegas Slamet.

Namun demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama terkait kompetensi guru kejuruan dan keterbatasan peralatan praktik. Secara jumlah, guru kejuruan sudah mencukupi, namun sebagian masih perlu peningkatan kompetensi agar selaras dengan perkembangan teknologi industri yang terus berubah, khususnya di bidang teknologi informasi.

Keterbatasan anggaran juga berdampak pada ketersediaan peralatan praktik yang belum sepenuhnya mengikuti standar industri modern. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya dana pemeliharaan dan kurangnya tenaga teknisi ahli.

Sebagai upaya peningkatan kompetensi, SMK Negeri 2 Mimika menjalin kolaborasi dengan berbagai mitra, salah satunya Balai PU di Malang. Melalui kerja sama ini, sebanyak 10 siswa dan 22 guru mengikuti kegiatan praktik dan magang, sekaligus membawa pulang peralatan pendukung pembelajaran, khususnya untuk jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).

“Kerja sama ini berdampak positif dan berkelanjutan, karena peralatan yang dibawa bisa dimanfaatkan oleh siswa lain agar kompetensi mereka semakin meningkat,” katanya.

Slamet juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dan dunia industri dalam pengembangan SMK di Kabupaten Mimika. Dukungan tersebut meliputi peningkatan kualitas SDM, penyediaan fasilitas praktik berstandar industri, penyelarasan kurikulum, program guru tamu, hingga penyerapan lulusan secara langsung.

“Pendidikan SMK akan kuat jika terjalin sinergi antara pemerintah daerah, dunia industri, dan sekolah. Inilah yang kami sebut sebagai segitiga emas. Dengan link and match yang baik, pengangguran dapat ditekan dan lulusan SMK siap bekerja, melanjutkan pendidikan, maupun berwirausaha, sesuai visi SMK,” pungkasnya.